David Allorerung, dkk.

PELUANG KELAPA UNTUK PENGEMBANGAN PRODUK KESEHATAN DAN BIOENERGI1)

David Allorerung, Zainal Mahmud, dan Bambang Prastowo

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111

1) Naskah disarikan dari bahan Seminar Kelapa Nasional yang disampaikan pada tanggal 16 Mei 2006 di Gorontalo.

Sumber: http://docs.google.com/www.pustaka-deptan.go.id/

PENDAHULUAN

Sejalan dengan isu kesehatan, energi, dan  lingkungan, diperkirakan pasar untuk berbagai produk industri hilir kelapa akan  makin bertambah. Agar diperoleh manfaat  maksimal dari perkembangan tersebut,  diperlukan berbagai terobosan untuk men dorong berkembangnya suatu struktur in dustri yang kuat mulai dari hulu hingga ke hilir dalam kerangka agribisnis berbasis  kelapa. Terobosan diperlukan baik dalam  aspek teknologi dan sumber pembiayaan  maupun kebijakan dan kelembagaan, untuk  mengembangkan industri berbagai produk hilir kelapa.

Pengembangan produk-produk kese hatan dan energi terbarukan dapat menjadi  salah satu sumber pertumbuhan utama  dalam agribisnis berbasis kelapa untuk  menggerakkan perekonomian pedesaan  sekaligus meningkatkan pendapatan  petani. Produk seperti minyak kelapa murni  (virgin coconut oil, VCO) dan biodiesel  dapat dikembangkan dalam skala kecil di  pedesaan, bahkan pada tingkat rumah tangga.

Produk Tradisional

Industri pengolahan berbahan baku kelapa  di Indonesia masih didominasi industri pri mer seperti industri minyak kelapa, arang  tempurung, dan sabut kelapa, yang hasilnya untuk memenuhi kebutuhan industri  pengolahan lanjutan. Meskipun pasarnya  cukup terbuka, industri pemanfaatan kayu  kelapa untuk mebel dan bahan bangunan  masih sangat terbatas. Industri kerajinan/  suvenir dari tempurung dan kayu kelapa  umumnya berkembang sebagai industri  kecil/rumah tangga. Sementara itu, produk  yang dihasilkan di tingkat petani masih  tetap berupa kelapa butiran, kopra, gula,  dan minyak klentik. Struktur industri ke lapa tersebut menyebabkan: (1) nilai tam bah yang diperoleh dari proses pengolah an kelapa tidak maksimal dan (2) tidak  memberi peluang kepada petani ikut me nikmati nilai tambah yang tercipta dalam proses pengolahan kelapa.

Dalam catatan statistik Asian and Pa cific Coconut Community (APCC) tahun  2005, Indonesia mengekspor lebih dari 10  macam produk kelapa dengan nilai US$ 529.830.000 (Tabel 1), tetapi hampir se muanya berupa produk primer dengan  pangsa minyak kelapa kasar (crude co conut oil, CCO) mencapai 78%. Hanya  arang aktif yang menghasilkan nilai tam  bah cukup besar, yaitu dari harga US$ 138/  ton dalam bentuk arang tempurung men jadi US$ 635/ton dalam bentuk arang aktif.

Indonesia belum tercatat sebagai eks portir produk-produk oleokimia, VCO, dan produk jadi dari serat sabut dan arang aktif. Meskipun harga kelapa parut kering (desic cated coconut) cukup tinggi, sebenarnya nilai tambahnya sangat kecil karena relatif sama dengan minyak kelapa kasar. Untuk menghasilkan 1 ton minyak kelapa kasar (US$ 550) diperlukan 1,8 ton kopra (US$ 455,4), atau memberi nilai tambah US$ 94,6. Untuk menghasilkan 1 ton kelapa parut kering (US$ 698) diperlukan kelapa segar setara dengan 2,4 ton kopra (US$ 607,2) atau nilai tambah sebesar US$ 90,8. Oleh karena itu, harga pembelian kelapa segar oleh industri kelapa parut kering biasanya mengikuti harga kopra. Produk kelapa yang sudah berkembang di dalam negeri adalah minyak kelapa kasar dan turun annya, kelapa parut kering, VCO, susu san tan (coconut milk), krim kelapa (coconut cream), serat sabut, arang aktif, dan arang tempurung. Sekitar 90% dari bahan baku daging kelapa digunakan untuk mengha silkan minyak kelapa kasar dan sisanya terbagi untuk produk lainnya. Namun, ke cenderungan untuk menghasilkan minyak kelapa kasar makin menurun, sedangkan produk lainnya makin meningkat. Sesuai dinamika pasar produk, kecenderungan untuk menghasilkan produk oleokimia turunan dari minyak kelapa kasar makin tinggi.Produk KesehatanDari buah kelapa dapat dikembangkan berbagai industri yang menghasilkan produk pangan dan nonpangan, mulai dari produk primer yang masih menampakkan ciri-ciri kelapa hingga yang tidak lagi menam pakkan ciri-ciri kelapa. Dengan demikian, nilai ekonomi kelapa tidak lagi berbasis kopra. Terkait hal itu, secara nasional pro mosi program diversifikasi di pedesaan untuk menghasilkan produk kelapa se tengah jadi yang terkait dengan industri berteknologi tinggi perlu dikembangkan. Sejak awal dekade 1970-an, kelapa mengalami tantangan yang berat dengan munculnya kelapa sawit sebagai pesaing untuk minyak makan dalam negeri. Pada saat yang sama, asosiasi petani kedelai Amerika Serikat mulai gencar dengan kampanye antiminyak tropis karena ditengarai berkaitan dengan penyakit-penyakit darah dan jantung. Isu ini dimanfaatkan oleh industri minyak nabati berbahan baku kedelai, bunga matahari, rapeseed, dan lain-lain untuk memojokkan minyak kelapa dan sawit. Namun, keadaan mulai berbalik sejak awal dekade 1990-an ketika sejumlah pakar, umumnya ahli gizi, mengemukakan bahwa minyak kelapa kaya akan asam lemak jenuh rantai karbon pendek yang justru bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pengendalian kolesterol.Tampaknya hanya VCO yang saat ini dikaitkan langsung dengan kesehatan, yang meskipun belum melalui uji klinis, oleh para produsen diperlakukan sama dengan obat. Manfaat kesehatan dari VCO dikaitkan dengan kandungan asam laurat yang diduga bersifat antibakteri, antifungi, dan antivirus, di samping berkhasiat mengendalikan kolesterol jahat dan bermanfaat bagi kesehatan jantung. VCO merupakan minyak yang dihasilkan melalui proses tertentu sedemikian rupa sehingga seasli mungkin seperti keadaan alaminya dalam daging kelapa (virgin). Ini juga dimaksudkan untuk membedakannya dengan proses pengolahan minyak kelapa yang melalui tahapan pemurnian (refining) sehingga melibatkan bahan kimia. Dengan demikian, VCO bebas bahan kimia. Berdasarkan pengertian tersebut, produk kelapa yang mengandung asam laurat cukup tinggi dan alami tanpa proses kimiawi juga akan memiliki manfaat kesehatan. Produk-produk tersebut adalah susu santan dan krim kelapa. Air kelapa juga dipromosikan sebagai minuman sehat di India. VCO memiliki konteks produk yang dapat meningkatkan kesehatan (daya imunitas tubuh terhadap berbagai penyakit degeneratif) dan bahan baku kosmetik alami yang bernilai tinggi. Kelapa parut kering merupakan produk campuran makanan yang higienis dan praktis. Susu santan adalah minuman kesehatan yang dapat mensubstitusi susu, dan krim kelapa merupakan bahan yang praktis dan higienis untuk keperluan memasak pengganti santan parut manual.Bahan BakarMeningkatnya harga BBM yang dibarengi kebijakan pengurangan subsidi secara nyata telah memaksa pemerintah dan kalangan industri mencari bahan bakar baru terbarukan. Sumber energi alternatif yang potensial antara lain adalah biomassa tanaman, air, dan matahari. Beberapa tanaman yang berpotensi sebagai penghasil biodiesel adalah kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kapuk, kapas, jagung, rapeseed, canola, dan bunga matahari.Krisis energi yang memaksa pemerintah mengurangi subsidi dengan nilai nominal yang sangat nyata, telah membuka peluang baru bagi sektor pertanian, khususnya tanaman penghasil minyak. Bahan baku biodiesel yang paling siap saat ini adalah dari sumber minyak nabati utama yaitu kedelai, sawit, rapeseed, canola, biji kapas, dan kelapa. Jika harga BBM terus meningkat maka kemungkinan negara penghasil minyak nabati akan memproses sebagian produknya untuk biodiesel. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk akan meningkatkan permintaan terhadap minyak nabati sehingga harga akan terdorong naik. Krisis energi juga mengajarkan kepada kita bahwa ketika harga BBM naik, biaya angkut akan meningkat tajam. Mulai tahun 2006, bisnis eceran BBM sudah akan diserahkan kepada mekanisme pasar. Apabila kebijakan tersebut juga mencakup penghapusan subsidi angkutan BBM maka harga BBM di daerah terpencil akan makin mahal. Hal ini merupakan tantangan yang sangat berat bagi daerah di era otonomi. Dalam perspektif seperti inilah pengembangan biodiesel dari kelapa menjadi sangat relevan, baik untuk mengurangi kebergantungan pada BBM maupun dalam rangka ekspor dan pemenuhan kebutuhan energi lokal di daerah dengan infrastruktur terbatas dan/atau bagi penduduk miskin, termasuk para petani kelapa.POTENSI KELAPASebaran dan ProduksiKelapa dengan areal 3,8 juta ha merupakan tanaman budi daya terluas ketiga setelah padi dan kelapa sawit, tetapi penyebar annya nomor dua terbesar setelah padi. Sekitar 97% areal kelapa merupakan per kebunan rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia sampai di pulau-pulau terpencil pada ketinggian 0-700 m di atas permukaan laut. Sekitar 34,5% kelapa berada di Pulau Sumatera, 23,2% di Jawa, 8,0 % di Bali, NTB, NTT, 19,6% di Sulawesi,7,2% di Kaliman tan, serta 7,5% di Papua dan Maluku. Jika rata-rata pemilikan 1,0 ha/KK, berarti ada 3,8 juta keluarga tani yang terlibat, dan apabila setiap hektar memerlukan 1 KK buruh tani untuk pemeliharaan, panen, dan pengolahan kopra, berarti masyarakat pe desaan yang pendapatannya bergantung pada kelapa mencapai 7,6 juta keluarga atau sekitar 38 juta jiwa.Produktivitas kelapa Indonesia masih rendah, yaitu rata-rata 1,0 ton kopra/ha/ tahun. Produktivitas rata-rata kelapa hib rida ternyata lebih rendah dibanding ke lapa Dalam (Kasryno et al. 1998). Hasil hasil penelitian mengungkapkan bahwa sebenarnya potensi produksi berbagai kultivar kelapa Dalam unggul berkisar antara 2,5-3,0 ton kopra/ha/tahun dan kelapa hibrida 3,5-5,0 ton kopra/ha/tahun. Penyebab rendahnya produktivitas kelapa sebenarnya sudah lama diketahui dan secara umum disepakati, yaitu:Proporsi tanaman tua makin besar. Secara teoritis, tanaman kelapa digo longkan tua jika sudah berumur 60 tahun atau lebih. Ini berarti kelapa yang ditanam tahun 1946 sudah tergolong tua. Meskipun belum ada data yang akurat, diperkirakan areal tanaman tua mencapai 950.000 ha atau 20% dari luas areal. Angka ini diperkirakan berdasarkan rata-rata kenaikan areal kelapa selama 30 tahun, yaitu dari 1.473.416 ha pada tahun 1967 menjadi 3.745.486 ha pada tahun 1997, kenaikan rata-rata 5,1%/tahun.Areal pertanaman yang rusak makin meluas. Kerusakan pertanaman kelapa umumnya karena diterlantarkan atau sistem drainase lahan rusak, khusus nya di lahan pasang surut. Tidak ada data yang akurat tentang hal ini, tetapi tampaknya cenderung meningkat ter utama pada lahan pasang surut Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.Besarnya keragaman genetik kultivar kelapa yang digunakan. Seperti telah diungkapkan, sekitar 96% kelapa yang ditanam adalah kelapa Dalam. Kelapa Dalam bersifat menyerbuk silang, se hingga secara alami terbentuk kultivar kultivar dengan potensi produksi yang sangat beragam. Apabila benih diambil secara acak maka keragaman produkti vitas antarindividu dalam satu kebun sangat besar, mulai dari yang paling buruk hingga yang terbaik. Sampai saat ini belum ada kebun induk khusus untuk kelapa Dalam unggul.Terbatasnya input teknologi. Penge lolaan usaha tani kelapa, baik pada tingkat petani maupun perusahaan besar, umumnya belum menerapkan teknologi budi daya, mulai dari pemi lihan benih, penyiapan bibit hingga pemeliharaan tanaman di lapangan. Di samping itu, kecuali kelapa hibrida, umumnya petani menggunakan benih asalan yang diseleksi dari populasi alam yang lazim disebut blok penghasil tinggi (dalam praktek, karena terdesak target biasanya diambil tanpa seleksi). Rendahnya input teknologi disebab kan oleh ketidaktahuan dan keter batasan kemampuan modal petani di satu sisi serta mahalnya harga input dan tidak adanya kebijakan yang kondusif di sisi lain.Serangan hama dan penyakit di daerah tertentu. Masih terdapat hama ende mis seperti Sexava di Sangir Talaud, Maluku Utara, dan Papua serta pe nyakit yang belum diketahui obatnya seperti busuk pucuk, penyakit layu di Kalimantan Tengah dan Natuna, serta penyakit kuning di Sulawesi Tengah.Dengan produktivitas tanaman pro duktif rata-rata 1,0 ton kopra/ha/tahun atau rata-rata 4.500 butir/ha/tahun, berarti potensi produksi kelapa dari 3,8 juta ha mencapai 17,19 miliar butir/tahun. Seba gian dari produksi tersebut dikonsumsi masyarakat sebagai kelapa segar dan sisa nya diolah sebagai bahan baku industri berupa kopra atau kelapa butiran. Kon sumsi kelapa segar diperkirakan rata-rata 30 butir/kapita/tahun, berarti konsumsi kelapa segar untuk sekitar 220 juta penduduk Indonesia mencapai 7,7 miliar butir atau 45% dari total produksi. Dengan demikian, buah kelapa yang dapat diolah di sektor industri tinggal 9,4 miliar butir/ tahun. Sekitar 80% di antaranya diolah menjadi kopra yang selanjutnya diproses menjadi CNO dan sisanya diolah dalam industri CNO berbahan baku kelapa segar serta industri kelapa parut kering, santan/ krim, dan akhir-akhir ini VCO. Dengan demikian, masih terbuka peluang yang sangat besar untuk mengembangkan produk-produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dengan secara bertahap mengalihkan industri minyak kelapa kasar ke industri sekunder dan tersier, termasuk biodiesel di kawasan terpencil.Produk KesehatanDaging Buah KelapaAsam lemak dan asam amino untuk ke sehatan. Asam lemak yang terkandung dalam daging buah kelapa mengandung 90% asam lemak jenuh dan 10% asam le mak tak jenuh. Meskipun tergolong mi nyak jenuh, minyak kelapa dikategorikan sebagai minyak berantai karbon sedang (medium chain fatty acids, MCFA). Ke unggulan asam lemak rantai sedang di bandingkan dengan asam lemak rantai panjang yaitu asam lemak rantai sedang lebih mudah dicerna dan diserap. Asam lemak rantai sedang saat dikonsumsi dapat langsung dicerna di dalam usus tanpa proses hidrolisis dan enzimatis, langsung dipasok ke aliran darah dan diangkut ke hati untuk dimetabolisir menjadi energi. Minyak yang memiliki asam lemak rantai panjang harus diproses dulu di pencernaan sebelum diserap dinding usus melalui beberapa proses panjang untuk sampai ke hati. Keunggulan lain dari asam lemak rantai sedang yaitu di dalam tubuh tidak diubah menjadi lemak atau kolestrol serta tidak mempengaruhi kolesterol darah.Asam lemak rantai sedang, khususnya asam laurat, mempunyai kemampuan yang spesifik sebagai antivirus, antifungi, anti- protozoa, dan antibakteri (Enig 1999). Asam laurat dalam tubuh manusia dan hewan akan diubah menjadi monolaurin. Monolaurin mempunyai efek kesehatan yang hampir sama dengan air susu ibu (ASI), yaitu dapat meningkatkan sistem kekebalan pada bayi dari infeksi virus, bakteri, dan protozoa. Karena itu, mono laurin berpeluang untuk dikembangkan sebagai obat penyakit sindrom pernafas an akut atau severe acute respiratory syndrom (SARS) (Anonim 2002).

Daging buah kelapa mengandung 10   jenis asam amino esensial sehingga dapat   dikategorikan sebagai bahan makanan   dengan protein bermutu tinggi. Protein ber  mutu tinggi adalah protein yang dapat   menyediakan asam amino esensial dalam perbandingan yang menyamai kebutuhan manusia. Umumnya protein yang bermutu   tinggi bersumber dari bahan hewani seperti daging, telur, dan susu (Winarno   1991). Pola kebutuhan asam amino untuk   bayi, anak-anak, dan orang dewasa disajikan pada Tabel 2.

Untuk penduduk dengan tingkat pen  dapatan yang relatif rendah, tentunya sa  ngat sulit memenuhi kebutuhan asam amino dengan mengonsumsi protein hewani karena harganya tidak terjangkau.   Karena itu, mengonsumsi bahan makanan   berbahan baku kelapa merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan  akan asam amino esensial.

Pola Konsumsi Makanan Berbahan Baku  Kelapa.

Penggunaan minyak kelapa sebagai minyak makan perlu dilirik kembali  oleh masyarakat khususnya petani kelapa.  Saat ini sebagian besar masyarakat cenderung mengonsumsi minyak makan yang  diolah dari minyak nabati lain, karena  minyak goreng yang beredar di pasaran  adalah minyak sawit, minyak kedelai, minyak jagung, dan minyak bunga matahari (Karouw et al. 2002).

Meningkatnya kesadaran konsumen  untuk mengonsumsi minyak kelapa akan  mendorong pengembangan pengolahan  minyak kelapa segar. Kondisi ini merupakan peluang bagi petani/kelompok tani  pada daerah-daerah pertanaman kelapa  untuk kembali mengolah minyak makan  dari kelapa. Selanjutnya, mengonsumsi  produk pangan berbahan baku daging  buah kelapa, seperti minyak goreng, kelapa parut kering, santan, VCO, permen kelapa, selai kelapa, es kelapa muda, dan tart kelapa (klaapeertart) tanpa disadari telah  memanfaatkan asam lemak rantai sedang  yang cukup tinggi yang sangat bermanfaat  untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus, bakteri dan protozoa, serta sejumlah asam amino esensial  yang sangat dibutuhkan tubuh. Mengonsumsi VCO 3,5 sendok makan/hari setara  dengan mengonsumsi 7 ons daging kelapa  segar atau 2,5 mangkuk kelapa parut kering atau 10 ons santan kelapa (Pride 2005).

Minyak Kelapa

Karakteristik. Minyak kelapa penting  bagi metabolisme tubuh karena mengandung vitamin-vitamin yang larut dalam le  mak, yaitu vitamin A, D, E, dan K serta  provitamin A (karoten) (Winarno 1991). Di  samping itu, minyak kelapa mengandung  sejumlah asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.

Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan  Palma Lain (Balitka) telah menghasilkan  empat varietas kelapa Dalam unggul, yaitu  Dalam Tenga, Dalam Palu, Dalam Bali, dan  Dalam Mapanget. Komposisi asam-asam  lemak yang dianalisis dari kopra keempat varietas tersebut tertinggi, yaitu asam  laurat 36,12-38,28%, asam miristat 13,42- 15,90%, asam kaprilat 8,78-11,10%, asam  kaprat 6,38-8,08%, asam palmitat 6,48- 7,95%, asam oleat 4,27-5,26%, asam stearat  1,76-2,54%, dan asam linoleat 1,44-1,66%  (Novarianto 1994). Hasil analisis VCO dari  keempat varietas tersebut diperoleh rata- rata asam lemak rantai sedang 56-57%  dengan kadar asam laurat 43%. Asam lemak  rantai sedang lainnya yang mempunyai  khasiat untuk kesehatan adalah asam  kaprat, asam oleat (Omega-9), dan asam linoleat (Omega-6).

Manfaat. Suatu penelitian telah dilakukan  terhadap 15 orang pasien penderita HIV di  Rumah Sakit San Lazaro, Manila. Pasien-pasien tersebut diberi monolaurin murni  dalam bentuk kapsul maupun minyak  kelapa dan dibagi dalam tiga kelompok.  Pasien pada kelompok pertama diberi monolaurin dosis tinggi, berupa kapsul yang  mengandung 7,2 g monolaurin tiga kali  sehari atau 21,6 g/hari. Pasien pada kelompok kedua diberi monolaurin dosis  rendah, yaitu diberi kapsul yang mengandung 2,4 g monolaurin tiga kali sehari atau  7,2 g/hari. Pasien pada kelompok ketiga  diberi minyak kelapa 15 ml tiga kali sehari  atau 45 ml/hari. Setelah 6 bulan pengobatan, 9 dari 15 pasien tersebut mengalami  perbaikan terhadap serangan HIV, yang  ditandai dengan menurunnya jumlah virus  HIV. Dari 9 orang pasien tersebut, 2 orang  mengonsumsi kapsul yang mengandung  7,2 g monolaurin, 4 orang mengonsumsi kapsul yang mengandung 2,4 g mono-laurin, dan 3 orang mengonsumsi minyak kelapa (Dayrit 2000 dalamArancon 2000).

Penelitian terhadap penduduk yang  bermukim di salah satu pulau di Pasifik  yang minyak makannya berasal dari kelapa  menunjukkan total kolestrol dan kolesterol  baiknya (high density lipoprotein, HDL cholestrol) meningkat dan kolesterol jahatnya (low density lipoprotein, LDL  cholestrol) menurun. Pada kelompok lain  yang bermigrasi ke Selandia Baru dan  jarang mengonsumsi minyak kelapa, ternyata total kolestrol dan kolesterol baiknya  meningkat, sedangkan kolesterol jahatnya  menurun (Prior et al. 1981 dalam Enig  1999). Penelitian lain yang dilakukan oleh  Kurup dan Raj Mohan terhadap 24 orang  sukarelawan yang diberi makan daging  buah kelapa dan minyak kelapa ternyata memiliki total kolestrol dan kolestrol baik  yang meningkat (Anonim 2002).

Suatu riset yang dilakukan di India  menunjukkan bahwa serangan kardiovaskular di Pulau Nikobar sangat rendah,  karena penduduk yang bermukim di pulau  tersebut mengonsumsi kelapa. Sama  halnya dengan penduduk di Pulau Lashadeveep yang mengonsumsi daging buah  kelapa dan minyak kelapa sebagai minyak  makan, ternyata kasus penyakit jantungnya sangat rendah (Thampan 1994 dalam  Anonim 2002). Telah diketahui pula  penggunaan minyak kelapa sebagai salah  satu formula makanan bayi dapat membantu meningkatkan penyerapan kalsium (Nelsen et al. 1996 dalamEnig 1999).

Air Kelapa

Air kelapa merupakan 25% dari komponen  buah kelapa dan pemanfaatannya masih  terbatas untuk pembuatan nata de coco.  Di Sulawesi Utara, misalnya, baru sebagian  kecil potensi air kelapa yang dimanfaatkan.  Salah satu pabrik kelapa parut kering di  Sulawesi Utara dengan kapasitas 100.000- 120.000 butir/hari (Baramuli dan Lay 1997),  menghasilkan air kelapa yang terbuang  percuma sekitar 30.000 liter/hari. Mengingat air kelapa memiliki nilai gizi yang  cukup baik maka terbuka peluang untuk  mengolahnya menjadi minuman ringan  kaya gizi. Dengan luas areal tanaman kelapa 3,8 juta ha dan produksi 3 juta ton  setara kopra pada tahun 2001, diperoleh sekitar 450 juta liter air kelapa.

Hasil analisis Grimwood (1975) menunjukkan, air kelapa tua terdiri atas air 91,23%,  protein 0,29%, lemak 0,15%, karbohidrat  7,27%, dan abu 1,06%. Air kelapa juga  mengandung vitamin C 2,2-3,7 mg/100 ml  dan vitamin B kompleks (Child 1964).  Kandungan mineral air kelapa terdiri atas  kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi,  tembaga, fosfor, sulfur, dan klorin. Air kelapa Dalam Mapanget, Dalam Takome,  dan Dalam Tenga mengandung protein  0,06-0,11%, gula reduksi 1,86-2,46%, dan  vitamin C 0,23-0,26 mg/100 ml (Tenda et al. 1997).

Air kelapa muda mengandung air  95,5%, protein 0,1%, lemak kurang dari  0,1%, karbohidrat 4,0%, dan abu 0,4%. Air  kelapa muda juga mengandung vitamin C  2,2-3,4 mg/100 ml dan vitamin B kompleks  yang terdiri atas asam nikotinat, asam  pantotenat, biotin, asam folat, vitamin B1,  dan sedikit piridoksin. Air kelapa muda  juga mengandung sejumlah mineral, yaitu  nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, klorin,  sulfur, dan besi (Kemala dan Velayutham  1978; Thampan 1981). Kandungan mineral K pada air kelapa adalah yang tertinggi,  baik pada air kelapa tua maupun air kelapa  muda. Mengonsumsi mineral K yang tinggi  dapat menurunkan hipertensi (Karyadi  dan Mulihal 1988), serta membantu mempercepat absorpsi obat-obat dalam darah (Kumar 1995).

Air kelapa atau dicampur dengan santan dapat pula digunakan untuk mengobati  penyakit cacing usus, kolera, muntah-muntah, serta gatal-gatal yang disebabkan  oleh penyakit cacar, campak, dan penyakit  kulit lainnya. Air kelapa juga mempunyai  potensi besar untuk dikembangkan sebagai minuman isotonik, karena secara  alami air kelapa mempunyai komposisi  mineral dan gula yang sempurna sehingga  mempunyai kesetimbangan elektrolit seperti cairan tubuh manusia.

Jika air kelapa dikombinasikan dengan  daging kelapa muda tentu akan memberikan nilai gizi yang lebih baik, karena daging  kelapa muda mengandung 15 jenis asam  amino, 10 di antaranya termasuk asam  amino esensial (Rindengan 1993). Oleh  karena itu, kombinasi air kelapa dengan  menambah potongan daging kelapa muda,  di samping meningkatkan nilai gizi, juga  diharapkan dapat menambah ragam produk yang lebih disukai konsumen.

Berdasarkan pertimbangan kandungan gizi pada air kelapa dan ketersediaan  bahan baku yang melimpah, air kelapa  berpotensi dikembangkan menjadi minuman komersial untuk kesehatan. Oleh  karena itu, perlu dilakukan penelitian dengan memperbaiki hasil-hasil penelitian  terdahulu sehingga dapat dihasilkan air  kelapa awet dalam kemasan dengan tetap  mempertahankan nilai gizi, flavor, cita rasa, dan aroma khas air kelapa.

PELUANG PENGEMBANGAN PRODUK KESEHATAN DAN ENERGI

Produk Kesehatan

Industri Hilir

Industri pengolahan kelapa saat ini masih  didominasi oleh produk setengah jadi  berupa kopra dan minyak kelapa kasar.  Produk olahan lainnya yang sudah mulai  berkembang adalah krim kelapa, nata de  coco, kelapa parut kering, arang aktif, sabut  kelapa, dan gula merah. Perkembangan  minyak kelapa kasar dalam 10 tahun  terakhir menunjukkan laju yang menurun  (-0,2%). Di sisi lain, laju perkembangan  produk hilir cenderung meningkat. Sebagai  contoh, laju perkembangan kelapa parut  kering mencapai 7,8%, dan laju perkembangan produksi arang aktif 9%. Laju  perkembangan produksi serat sabut menurun -10,2%, walaupun permintaannya di  luar negeri meningkat. Kecenderungan penurunan tersebut berkaitan dengan tidak  terpenuhinya standar mutu ekspor serat  sabut asal Indonesia. Gambaran tersebut  mengindikasikan telah terjadi pergeseran  orientasi produksi dari bahan setengah jadi menjadi produk akhir.

Daya saing produk kelapa pada saat  ini tidak lagi terletak pada produk primer  yaitu kopra, seperti yang selama ini banyak  diusahakan secara tradisional. Kelapa parut  kering atau tepung kelapa, misalnya,  memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi  (300-400%) dibanding kopra, yang ditunjukkan oleh indeks paritas ekspor (nilai  ekspor dibandingkan dengan biaya produksi). Bahkan, daya saing ekspor produk  primer cenderung makin menurun hingga  biaya produksinya lebih tinggi daripada  nilai ekspornya, paling tidak nilai tambahnya sangat tipis (Gambar 1).

Gambar 1. Indeks paritas ekspor produk kelapa, 1999-2003.

Profil usaha produk-produk akhir kelapa yang sudah mulai berkembang seperti  nata de coco, serat, arang tempurung, gula  merah, dan tepung kelapa (Tabel 3), menunjukkan kelayakan yang tinggi. Akhir- akhir ini telah berkembang pula VCO sebagai makanan suplemen dan juga obat.  Beberapa hambatan yang akan muncul  seperti kontinuitas pasokan bahan baku  dapat diatasi sehingga industri masih  bertahan dengan kondisi yang baik. Bila  pengembangan kelapa dapat dilaksanakan  secara terpadu maka pasokan bahan baku akan lebih terjamin.

Harga Kelapa dan Produk Kelapa

Seiring dengan perkembangan permintaan  akan produk turunan kelapa, khususnya  di pasar internasional, harga kelapa butiran di dalam negeri cenderung meningkat.  Pada tahun 1993-2002, harga kelapa butiran  meningkat dari Rp358/butir menjadi  Rp1.663/butir atau naik 12,2%/tahun,  tetapi harga di pasar dunia cenderung  menurun (Tabel 4). Dalam periode di atas,  harga kelapa di pasar dunia menurun dengan laju -3,9%/tahun.

Perkembangan harga ekspor beberapa  produk turunan kelapa asal Indonesia  lainnya, yaitu minyak kelapa mentah,  kelapa parut kering/tepung kelapa, dan  susu/krim kelapa, cenderung menurun  selama periode 1999-2003 (Tabel 5). Sebaliknya, harga copra meal (CoM) dan  arang aktif cenderung meningkat dalam  kurun waktu yang sama. Tidak terdapat  pola yang jelas antarjenis produk dalam  pencapaian tingkat harga terendah dan tertinggi. Namun, bila pada tahun 1999 indeks harga umum dianggap belum normal setelah krisis ekonomi tahun 1998,  dampak krisis ekonomi tampaknya hanya  terjadi pada produk minyak kelapa kasar,  susu/krim kelapa dan CCL. Harga ekspor  ketiga jenis produk tersebut pada tahun 1999 mencapai titik maksimum.

Menurut APCC, perolehan ekspor produk kelapa Indonesia masih lebih rendah  dibanding negara pesaing utama (Filipina), padahal bila dibandingkan tingkat  harga ekspor antarproduk kelapa di kedua  negara, harga beberapa produk kelapa asal  Indonesia lebih murah. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam perolehan manfaat  perdagangan kelapa Indonesia, pengaruh  faktor nonharga masih cukup signifikan.  Faktor-faktor yang terkait dengan kualitas  produk, tingginya biaya transportasi, dan  kompleksitas prosedur ekspor diduga turut  berpengaruh terhadap perolehan manfaat  perdagangan (ekspor) produk kelapa Indonesia yang belum maksimal.

BioenergiPeluang pengembangan biodiesel tidak terlepas dari konteks dan peta energi secara global, yang meliputi harga energi BBM dan harga komoditas, potensi konsumen, serta keunggulan komparatif dan status teknologi masing-masing sumber energi.Harga BBM InternasionalPengalaman menunjukkan bahwa ketersediaan energi dari BBM sangat rentan terhadap persoalan politik, cuaca, dan permintaan negara besar. Ketika terjadi perang teluk yang melibatkan Amerika Serikat, harga minyak segera melambung. Hal yang sama selalu berulang jika terjadi perubahan musim dingin yang lebih kuat dan ketika permintaan Cina meningkat. Bahkan ketika ada berita menyangkut cadangan strategis BBM Amerika Serikat, pasar langsung bereaksi. Banyak pengamat memperkirakan dalam 5-10 tahun mendatang, harga BBM dapat mencapai keseimbangan sekitar US$ 100/barel. Keberhasilan dalam menggunakan dan menghasilkan biodiesel akan berpengaruh menahan peningkatan terlalu tinggi atau peningkatan lebih lanjut harga minyak mentah dunia sampai terjadi peningkatan tekanan baru dari sisi permintaan.

Berdasarkan prakiraan kecenderungan  harga minyak mentah internasional dan  kebijakan harga BBM dalam negeri (yang  mengarah kepada penghapusan subsidi),  maka peluang menghasilkan biodiesel dari  kelapa menjadi sangat terbuka, setidaknya  dapat membantu memperbaiki harga kopra  petani. Salah satu hambatan pengembangan biodiesel di Indonesia adalah  distorsi harga BBM karena kebijakan  subsidi yang dijalankan pemerintah.  Kemungkinan subsidi dihapus seluruhnya  dan terbukanya bisnis eceran BBM dalam  negeri bagi swasta/asing mulai tahun 2006,  dapat mendorong harga BBM dalam negeri  mendekati harga internasional. Pada  tingkat harga BBM US$ 60/barel, harga  minyak diesel (solar) di dalam negeri untuk  industri mencapai Rp5.300/l. Secara umum,  harga BBM di luar negeri lebih tinggi dibanding harga di dalam negeri (Tabel 6).

Harga Minyak Kelapa Kasar di Pasar Internasional dan Kopra Dalam Negeri

Pola perkembangan harga minyak kelapa  kasar di pasar internasional tidak terlepas dari keseimbangan pasokan dan permin taan minyak nabati. Jika pasokan salah satu  sumber minyak nabati mengalami gangguan, maka harga sumber minyak lainnya  akan terpengaruh. Harga minyak kelapa  kasar selalu lebih tinggi dibandingkan  minyak sawit kasar (crude palm oil, CPO),  sedangkan harga palm kernel oil (PKO)  relatif sama. Perkembangan harga beberapa minyak nabati utama disajikan pada  Tabel 7. Krisis BBM dipastikan akan  mengubah pola perkembangan harga  minyak nabati karena sejumlah negara  sudah gencar mengembangkan dan menggunakan biodiesel.

Permintaan minyak nabati terutama  ditentukan oleh peningkatan konsumsi per  kapita akibat pertumbuhan ekonomi dan  penduduk. Sebagai market leaders dalam  pasar minyak nabati adalah minyak kedelai,  CPO, dan bunga matahari. Krisis BBM telah  memaksa berbagai negara untuk mensubstitusi sebagian kebutuhan minyak diesel  fosil dengan biodiesel. Situasi ini akan  menyebabkan benturan kepentingan antara pemenuhan kebutuhan minyak makan  dan industri oleokimia di satu sisi dengan  pemenuhan kebutuhan bahan bakar di sisi  lain. Pada titik ini, perhitungan bisnis atau  harga yang akan menentukan pilihan-pilihan dan pada akhirnya akan tercapai  keseimbangan baru yang tercermin dalam  harga. Bahan baku biodiesel yang siap  diolah adalah minyak nabati dari CPO, kedelai, rapeseed, biji kapas, dan CCO.

Pemerintah melalui Blue Print Pengelolaan Energi Nasional yang dikeluarkan oleh Departemen Energi dan  Sumberdaya Mineral telah menetapkan  bahwa pada 2015 kebutuhan energi  nasional akan dipenuhi dari sumber energi baru terbarukan sebesar 4,4%, dan 1,3%  di antaranya berasal dari biofuel (setara dengan 4,7 juta kiloliter). Sementara itu,

Departemen Pertanian telah pula menyatakan kesiapannya dalam menyediakan  bahan baku biofuel dari komoditas pertanian, yaitu kelapa sawit dan jarak pagar  (biodiesel) serta tebu, sagu, ubi kayu, ubi  jalar, dan sorgum (bioetanol). Dalam  skenario tersebut, ternyata biodiesel kelapa   belum diperhitungkan. Jika harga minyak  mentah terus meningkat dapat dipastikan  sebagian pasokan minyak nabati terutama  CPO, minyak kedelai, dan rapeseed akan  digunakan dalam industri biodiesel. Akibatnya, harga minyak nabati tersebut akan  meningkat yang pada gilirannya akan  mengangkat harga minyak kelapa kasar.  Jika harga minyak kelapa kasar di pasar  internasional meningkat, maka harga kopra dalam negeri juga akan terangkat.

Seberapa besar peluang minyak kelapa  kasar diubah menjadi biodiesel sangat  bergantung pada tingkat harga minyak  diesel fosil dan harga minyak kelapa kasar  atau kopra. Setidaknya, peluang ekonomi  untuk bertahan pada minyak kelapa kasar  atau mengubahnya menjadi biodiesel sama  besarnya sehingga dapat merupakan  faktor pengontrol fluktuasi harga kopra di  tingkat petani yang selama ini hanya bergantung pada minyak kelapa kasar. Artinya  jika sebagian dari kopra diolah menjadi  biodiesel, maka bertambah lagi satu  alternatif produk yang mungkin dapat  mengimbangi dominasi minyak kelapa  kasar. Pengaruh produk kelapa parut  kering dan VCO sebagai produk alternatif  dari daging buah kelapa yang sudah ada,  belum cukup mempengaruhi harga kopra karena volumenya sangat kecil.

Potensi Konsumen

Konsumsi energi erat kaitannya dengan  perkembangan ekonomi dan penduduk  dunia. Secara umum, konsumen energi  terbesar adalah negara-negara maju yang  tergabung dalam G-8 dan negara dengan  penduduk besar seperti Cina, India,  Indonesia, dan Pakistan. Dalam jangka  menengah (hingga 10 tahun ke depan),  konsumsi energi dari negara-negara dengan penduduk relatif sedikit tetapi ekonominya berkembang juga akan meningkat  seperti Korea, Thailand, Malaysia, dan  negara-negara Eropa. Kemungkinan hanya Rusia, Inggris, dan Kanada yang mengalami surplus produksi BBM. Menurut  Pascual dan Tan (2004), konsumsi energi  dunia akan meningkat hampir dua kali dalam 50 tahun mendatang, dari 3,36 x 10 20 J  menjadi 6,3 x 10 20 J.Yang masih menjadi  pertanyaan adalah apakah peningkatan  tersebut dapat diimbangi dengan peningkatan penemuan cadangan baru dan produksi BBM.

Berdasarkan perkembangan akhir-akhir  ini, tampaknya kesenjangan antara pasok an dan permintaan BBM akan makin lebar.  Dengan demikian, potensi konsumen  biodiesel sangat besar seiring dengan  perkembangan ekonomi dan pertumbuhan  penduduk, baik dalam negeri maupun  mancanegara. Harga bahan bakar solar  lebih dari Rp12.500/l di berbagai negara  (Tabel 6) jelas akan lebih menguntungkan  mengekspor minyak kelapa dalam bentuk  biodiesel dibandingkan minyak kelapa  kasar yang harganya saat ini hanya Rp 517/  l. Jika harga ekspor dapat mencapai  Rp10.000/l, maka harga kopra dapat menjadi Rp3.000/kg.

Keunggulan Komparatif

Keunggulan komparatif berbagai sumber  energi alternatif dipengaruhi oleh beberapa  faktor. Setiap sumber energi terbarukan  memiliki keunggulan komparatif masing-masing. Jenis energi yang layak di suatu  daerah belum tentu sesuai untuk daerah  lain. Sebagai contoh, energi surya dan jarak  pagar mungkin lebih sesuai untuk daerah  Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara  Barat; air dan jarak untuk Jawa; sawit dan  air untuk Sumatera, Kalimantan, dan  Papua, tetapi kelapa mungkin lebih sesuai  untuk pulau-pulau terpencil atau kawasan pasang surut.

Harga jual minyak diesel dalam negeri  saat ini berlaku untuk seluruh Indonesia  sehingga dapat dipastikan ada subsidi  pengangkutan ke daerah-daerah yang jauh  dari lokasi pengilangan milik Pertamina.  Apabila liberalisasi bisnis BBM dalam  negeri disertai dengan pencabutan subsidi  angkutan BBM, maka harga minyak diesel  di daerah dengan aksesibilitas terbatas  seperti kepulauan akan menjadi lebih  tinggi. Di sisi lain, karena faktor biaya  angkut, kemungkinan harga kopra di  tingkat desa atau kecamatan hanya setengah dari harga kopra di pabrik minyak kelapa kasar di Bitung.

Berdasarkan kondisi tersebut akan  lebih menguntungkan mengolah kopra  menjadi biodiesel. Jika harga minyak diesel  fosil Rp8.000/l atau harga ekspor biodiesel  kelapa Rp10.000/l, maka kopra petani  dapat dibeli dengan harga Rp2.000- Rp3.000/kg. Jika harga kopra Rp2.000/kg,  dapat dihasilkan biodiesel dengan harga  jual Rp6.000/l. Mengolah kopra setempat  menjadi biodiesel dapat mengatasi berbagai persoalan sekaligus, yaitu harga  bahan bakar diesel dan harga kopra lebih  stabil pada tingkat yang menguntungkan  konsumen biodiesel dan petani kelapa,  membantu pemerintah daerah dalam menjamin penyediaan energi di lokasi terisolir,  serta membuka lapangan kerja off farm di  daerah. Kegiatan ini juga memiliki efek  ganda, berupa peningkatan produktivitas  nelayan, ekonomi masyarakat melalui penyediaan energi listrik pedesaan, serta transaksi perdagangan lokal.

Salah satu keunggulan biodiesel kelapa  dibandingkan sawit atau jarak pagar adalah kelapa sudah tumbuh menyebar di  hampir seluruh pelosok Indonesia, sedangkan kelapa sawit hanya terkonsentrasi di beberapa kawasan dan jarak pagar  masih harus dikembangkan pertanaman nya. Dari segi produktivitas minyak persatuan luas, kelapa sawit lebih unggul  tetapi lahan yang sesuai untuk kelapa sawit  lebih terbatas, sedangkan lahan yang  sesuai untuk kelapa lebih luas, mulai dari  lahan rawa pasang surut di Sumatera dan  Kalimantan hingga lahan kering di Nusa  Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.  Dibandingkan dengan jarak pagar, potensi  produktivitas minyak per satuan areal relatif sama, yaitu sekitar 1,0-1,5 t/ha, tetapi  wilayah sebaran jarak pagar tidak menjangkau lahan pasang surut. Berdasarkan  keunggulan komparatif masing-masing dan  prakiraan besarnya kebutuhan biodiesel di  masa datang, tampaknya ketiga sumber  daya tersebut harus dikembangkan secara bersama sehingga saling melengkapi dan  disesuaikan potensi masing-masing daerah.

Teknologi

Pada berbagai diskusi, kalangan profesional keteknikan menginformasikan bahwa  teknologi produksi biodiesel untuk kendaraan diesel dan motor diesel sudah tidak  ada masalah. Diinformasikan pula bahwa  biodiesel dari CPO dan jarak pagar harus  melalui proses transesterifikasi dengan  menggunakan etanol atau metanol. Proses  tersebut akan menambah komponen biaya  produksi, sehingga dengan tingkat harga  minyak diesel sekarang, kemungkinan sulit  bersaing. Tahapan proses ini pun akan  mensyaratkan skala pengolahan yang  cukup besar untuk mencapai tingkat  efisiensi yang ekonomis, termasuk untuk  prosesing hasil sampingnya yaitu gliserin.  Jika demikian, maka persoalan biaya trans portasi dari lokasi produksi atau pusat  penimbunan ke daerah akan menjadi ken dala. Di samping itu, berdasarkan Road  Map pengembangan biodiesel nasional,  target pemakaian biodiesel hanya sampai  pada B-10 atau B-20 (sebagai pencampur 10% atau 20% pada minyak diesel fosil).

Kendala tersebut dapat diatasi pada  penggunaan biodiesel kelapa. Sebagai  contoh, biodiesel kelapa yang diproduksi  oleh Tobolar Copra Processing Authority  di Marshall Island (APCC 2005) dapat  digunakan langsung untuk kendaraan  bermotor, motorboat, kapal ikan, dan mesin diesel tanpa proses esterifikasi dan  dapat digunakan hingga B-70 tanpa me nimbulkan gangguan pada mesin. Pada  saat ini, penggunaan biodiesel kelapa  sudah mencakup 40% kendaraan bermotor  dan kapal nelayan serta semua motorboat  pariwisata di negara tersebut. Satu-satunya  kendala adalah keterbatasan bahan baku  kopra sehingga hanya berproduksi pada  30% kapasitas pabrik. Proses pengolah annya sangat sederhana, yaitu penyaring an bertingkat secara mekanis, sehingga  memungkinkan dioperasikan pada berbagai  skala tanpa mengorbankan efisiensi, arti nya memungkinkan dibangun dengan skala kecil di daerah terpencil.

PENUTUP

Agenda nasional yang harus segera dianti sipasi antara lain adalah masalah kese hatan dan energi. Kelapa merupakan  komoditas yang pengembangannya dapat  mendukung pemecahan kedua masalah tersebut.

Investasi dalam pengembangan agri bisnis kelapa, terutama untuk menghasil kan produk kesehatan dan biodiesel di  masa mendatang, merupakan syarat mut lak, karena perolehan nilai tambah dari  pengolahan kelapa ditentukan oleh ke mampuan pengembangan produk turunan  yang membutuhkan investasi tambahan.  Guna mendorong minat investor dalam  pengembangan produk kelapa, sangat  diperlukan dukungan kebijakan pemerintah, terutama dalam fungsi sebagai  regulator dan fasilitator untuk mencipta kan iklim investasi yang kondusif. Secara  garis besar dukungan tersebut dapat diwujudkan berikut ini.

Kebijakan Usaha Tani

Mengingat usaha tani merupakan basis  dari agribisnis kelapa, terutama untuk men jamin ketersediaan bahan baku bagi in dustri lanjutan, kebijakan di tingkat usaha  tani yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

  1. Penyediaan kredit modal usaha bagi  petani dengan tingkat bunga yang  ringan, terutama untuk melakukan  intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan.
  2. Pembinaan teknis dan kelembagaan  produksi yang mengarah pada pem bentukan kelompok tani yang dapat  menangani pengadaan sarana produksi dan penjualan hasil.
  3. Pembangunan kelembagaan semacam  Coconut Board sebagai penyedia jasa  bagi para pelaku dalam usaha dan sistem agribisnis kelapa.
  4. Penyediaan informasi teknologi dan  pasar bagi petani guna meningkatkan posisi tawar petani dalam perdagangan.
  5. Penjaminan keberlanjutan usaha tani
    dengan memberikan kemudahan pe ningkatan status hukum atas kepe milikan lahan usaha dan kemungkinan  kesalahan administrasi keagrariaan serta gangguan sosial.
  6. Pengembangan infrastruktur di sentra sentra produksi untuk mengurangi biaya pengumpulan.

Kebijakan Industri Pengolahan

Mengingat pengembangan industri peng olahan merupakan prasyarat dalam me ningkatkan nilai tambah dan daya saing  perkelapaan nasional, perlu dukungan kebijakan sebagai berikut:

  1. Penyederhanaan birokrasi perizinan  usaha dan investasi di bidang industri  pengolahan produk pada berbagai tingkatan dan skala usaha.
  2. Pembukaan akses pembiayaan dengan  pemberian skim kredit khusus untuk  pengembangan industri dengan berbagai tingkatan dan skala usaha.
  3. Promosi pengembangan industri peng olahan hasil kelapa terpadu guna me ningkatkan signifikansi perolehan nilai tambah.
  4. Peningkatan kegiatan penelitian dan  pengembangan komoditas kelapa dalam pengolahan dan pemasaran.

Kebijakan Fiskal dan Perdagangan

Untuk menjamin keberlangsungan agri bisnis diperlukan iklim usaha yang kon dusif dengan memberikan insentif kepada  pelaku usaha melalui kebijakan sebagai berikut:

  1. Pembebasan pajak pertambahan nilai  (PPN) untuk mendorong tumbuhnya industri pengolahan dalam negeri.
  2. Perlindungan terhadap industri peng olahan kelapa melalui penetapan tarif  impor untuk mesin, produk-produk sejenis dari luar negeri (kompetitor).
  3. Peninjauan kembali peraturan-peraturan pemerintah tentang retribusi  yang mengakibatkan distorsi pasar  input dan output hasil pengembangan  produk kelapa untuk mendukung ke berlanjutan usaha investor dan pening katan bagian pendapatan (margin share) petani.
  4. Stabilisasi nilai tukar pada tingkat yang wajar guna meredam gejolak pasar   produk domestik dari pengaruh fluktuasi pasar input dan output industri   produk turunan kelapa di tingkat regional dan global.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Kelapa Muda untuk Jan  tung. Indo Asian News Service. Smc/cn02.

APCC. 2005. Coconut Statistical Year  book. Asian and Pacific Coconut Community.

Arancon, R.N. Jr. 2000. The health benefit   of coconut oil. Cocoinfo International 7 (2): 15-19.

Baramuli, A.N. dan A. Lay. 1997. Pe ngembangan industri kelapa parut   kering PT. Unicotin di Sulawesi Utara.   hlm. 48-56. Prosiding Temu Usaha   Perkelapaan Nasional, Manado, 6-8   Januari 1997. Buku II. Balai Penelitian   Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Manado.

Child, R. 1964. Coconuts. Longmans Green and Co., London.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2004.   Statistik Perkebunan Kelapa. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta.

Enig, M. 1999. Coconut in Support of Good   Health in the 21st Century. Paper Pre  sented on APPC’S XXXVI Session and   30th Anniversary in Pohnpei, Federated   States of Micronesia, 27-28 September 1999.

Grimwood, B.E. 1975. Coconut palm pro  ducts: their processing in developing   countries. Food and Agriculture Organization, Rome, Italy. 261 pp.

Joek Lou. joel.lou@eia.doe.gov. (19 Desember 2005).

Kemala, D.C.B. and M. Velayutham. 1978.   Changes in the chemical composition   of nut water and kernel during development of coconut. Placrosym 1: 340-346.

Karouw, S., B. Rindengan, dan P.M.   Pasang. 2002. Khasiat minyak kelapa untuk kesehatan. Buletin Palma No. 28.

Kasryno, F., Z. Mahmud, dan P. Wahid.   1998. Sistem usahatani berbasis ke  lapa. Prosiding Konferensi Nasional   Kelapa IV. Bandar Lampung, 21-23 Ap  ril 1998. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor.

Karyadi, D. dan Mulihal. 1988. Kecukupan   Gizi yang Dianjurkan. Gramedia, Jakarta. 52 hlm.

Kumar, T.B.N. 1995. Tender coconut water:   Nature’s finest drink. Indian Coconut   Journal-XXXII Cocotech Special. XXVI (3): 42-45.

Novarianto, H. 1994. Analisis keragaman   pola pita isozim dan pewarisannya dan   analisis kandungan minyak, komposisi   asam lemak dan kandungan protein   kelapa. Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 93 hlm.

Pascual, L.M. and R.R. Tan. 2004.   Comparative life cycle assessment of   coconut biodiesel and conventional   diesel for Philippine automotive   transportation and individual boiler   application. Presented at InLCA/LCM   2004. American Center for Lifecycle   Assessment Centers, 11-24 July 2004. De la Salle University, Manila.

Pride, M. 2005. Manfaat dan khasiat virgin coconut oil. 4 hlm.

Rindengan, B. 1993. Kontroversi Isu Minyak Tropis. Buletin Balitka (20): 1-12.

Tenda, E.T., H.G. Lengkey, dan J. Kumaunang. 1997. Produksi buah tiga   kultivar kelapa Genjah dan tiga kultivar   kelapa Dalam. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 3(2).

Thampan, P.K. 1981. Handbook on Coco nut Palm. Oxford and IBH Publishing Co., New Delhi, India. 311 pp.

Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia, Jakarta. 251 hlm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s