Dadang WI, dkk.

Rayuan Kelapa yang Menggiurkan

Dadang WI, Selamet Riyanto, Faiz Faza, Ryan Masanto

Sumber: http://www.agrina-online.com/ 31 March 2008

Anda tentu tahu, mengapa Pramuka mempunyai lambang tunas kelapa? Ya, karena seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai banyak manfaat.

Dari akar, batang, daun, bunga, dan buah kelapa (Cocos nucifera), dapat dihasilkan berbagai produk kebutuhan hidup manusia. Lantaran itu pula, sebagian orang yang jeli menjadikan kelapa sebagai ladang bisnis menggiurkan.

Secara tradisional, produk kelapa digunakan untuk konsumsi segar, dibuat kopra, santan, minyak kelapa, atau gula merah. Seiring perkembangan pasar dan dukungan teknologi, permintaan akan berbagai produk turunan kelapa semakin meningkat, seperti dalam bentuk tepung kelapa parut (desiccated coconut/DC), serat sabut, serbuk sabut, arang tempurung, dan arang aktif.

Air dari buah kelapa pun bisa dijadikan nata de coco, cuka, minuman kesehatan, sirup, sampai kecap. Sedangkan sabutnya diolah menjadi serat untuk karpet, keset, geotekstil, jok kendaraan, mebel, pengganti palet kayu dan plastik, matras, serta tali. Juga sebagai media tanam, pembuatan dashboard, penyaring udara, serta peredam panas dan suara untuk konstruksi bangunan.

Menurut Prof. Dr. Ir. Zainal Mahmud MS, APU, peneliti kelapa di Pusat Penelitian Perkebunan Bogor, sabut kelapa termasuk serat paling kuat. “Ini keunggulan yang belum banyak diketahui banyak orang. Sekarang, serat kelapa sedang diujicoba dalam bentuk komposit untuk sayap belakang pesawat terbang,” tandasnya.

Lain lagi tempurungnya. Di luar arang dan karbon aktif, tempurung dapat menjadi bahan pengisi industri kayu lapis, asbes, dan obat nyamuk.

Terabaikan

Menurut Asian and Pacific Coconut Community (APCC), Indonesia terbilang produsen kelapa terbesar di dunia. Pada 2006, total areal tanaman kelapa nasional mencapai 3,9 juta ha, tersebar di Sumatera (34,5%), Jawa (23,2%), Sulawesi (19,6%), Bali, NTB, dan NTT (8%), Kalimantan (7,2%), serta Maluku dan Papua (7,5%). Produsen urutan kedua adalah Filipina seluas 3,1 juta ha, lalu India 1,9 juta ha, Sri Lanka 442 ribu ha, Thailand 372 ribu ha, dan negara lainnya 2,4 juta ha.

Namun, menurut Achmad Mangga Barani, Dirjen Perkebunan, luas kebun kelapa di dalam negeri menyusut tinggal 3,6 juta ha. Penyebabnya, tanaman sudah banyak yang tua dan rusak. Dirjen mengakui, sejak ada pengembangan kelapa sawit pada tahun 1980-an, keberadaan kelapa terabaikan. Padahal, sekitar 96,6% areal kelapa merupakan perkebunan rakyat yang perlu banyak mendapat perhatian pemerintah. “Mulai 2007, Deptan memprogramkan pengembangan kelapa terpadu di sentra-sentra produksi baik on-farm maupun off-farm,” papar Mangga Barani.

Walaupun kurang diperhatikan, setiap tahun Indonesia menghasilkan rata-rata 15,5 miliar butir kelapa, atau setara 3 juta ton kopra. Bahan ikutan yang dapat diperoleh dari jumlah itu adalah 3,75 juta ton air kelapa, arang tempurung 0,75 juta ton, serat sabut 1,8 juta ton, dan 3,3 juta ton serbuk sabut.

Industri Hilir

Daya saing produk kelapa terletak pada industri hilir. Produk akhir yang sudah berkembang baik saat ini meliputi minyak (coconut oil/CO), minyak kasar (crude coconut oil/CCO), DC, santan (coconut milk/CM), arang tempurung (coconut charcoal/CCL), arang aktif (activated carbon/AC), gula merah (brown sugar/BS), nata de coco (ND), dan serat sabut (coconut fiber/CF). Yang terbilang anyar adalah virgin coconut oil (VCO) dan coconut wood (CW). Produk CO, CCO, DC, CM, CCL, AC, BS, dan CF sudah masuk pasar ekspor.

Meski produk turunan kelapa banyak dibutuhkan pasar ekspor, tapi baru segelintir produsen Indonesia mencetak keuntungan dari proses nilai tambah kelapa. Menurut Forum Kelapa Indonesia (FOKPI), Filipina masih merajai pasar ekspor dengan 125 jenis produk olahan kelapa. Sebaliknya, baru 25 jenis produk olahan diproduksi di Indonesia. Pada 2006, APCC mencatat nilai ekspor Filipina dari produk turunan kelapa sebesar US$894,6 juta. Sementara nilai ekspor Indonesia, hanya US$364,6 juta.

Mesti Terpadu

Di tengah iklim industri kelapa Indonesia yang belum bergairah, Endut Rohadi, pebisnis di Ciamis, Jabar, berusaha merebut peluang. Sejak 1984, ia berbisnis minyak kelapa (kletik). Kini, selain memproduksi minyak kletik sendiri sebanyak 3 ton/bulan, ia juga memasok minyak kasar 40 ton/bulan untuk produsen minyak Salem di Jakarta. Untuk kebutuhan pasokan itu, ia mengumpulkan minyak olahan yang belum jadi dari 60 mitra produsen kecil di Ciamis dan Tasikmalaya.

Di samping itu, Endut memproduksi VCO 20 kg/bulan. Yang tak kalah menarik, ia membisniskan galendo (ampas minyak). Produksinya 1,2 ton/bulan. Setiap kg, ia jual Rp30.000.

Hal serupa dilakukan Dr. Abdul Hamid Bambang Setiaji, M.Sc., pemilik PT Tropica Nucifera Industry (TNI). Kecuali memproduksi minyak goreng dan VCO, perusahaan yang berlokasi di Yogyakarta itu mengembangkan berbagai produk turunan minyak kelapa. Seperti kosmetik, lotion, sabun, krim pelembap, shampo, antinyamuk, serta kerajinan sabut dan tempurung. VCO dijual Rp100 ribu/liter, kosmetik Rp7.000/pak 30 gr, shampo Rp5.500/botol, antinyamuk Rp6.000/botol, dan kerajinan Rp15.000—Rp50.000/item.

Menurut Bambang, yang juga peneliti kelapa dari Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, UGM, untuk menghasilkan satu liter minyak diperlukan 10 buah kelapa. Dari jumlah itu diperoleh empat kg tempurung yang bisa menghasilkan satu kg briket tempurung dan dua liter asap cair. Oleh Bambang, briket tempurung dijual Rp3.500/kg sedangkan asap cair Rp8.000/liter. Sedangkan minyak kelapanya sendiri Rp18 ribu/liter.

Saat ini, TNI mengekspor 300 ton briket ke Singapura dan 150 ton ke Jepang setiap bulan. “Mulai April, Korea minta 1.000 ton/bulan,” imbuh Bambang. Sementara untuk asap cair penjualan ke Singapura mencapai 4.000 liter dan ke Jepang 150 ton per bulan. Asap cair ini digunakan untuk mengawetkan makanan secara alami (preservation food), terutama produk ikan.

Sementara yang dilakukan Unit Pengolahan Kelapa Terpadu (UPKT) Coco Perdana Abadi, di Purworejo, Jateng, sejak 2007 melakukan bisnis pemurnian minyak kletik. Akibat pasokan minyak dari masyarakat seret, industri kecil itu baru bisa memproduksi minyak goreng 300 kg per hari.

Lain lagi aktivitas Citra Alam Handycraft di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Sejak 1998, perusahaan ini memproduksi beragam kerajinan untuk ekspor berbahan utama daun kelapa. Produknya antara lain kotak tisu, wadah sampah, tempat pensil, bingkai foto, kotak set, miniatur rumah joglo, bantal, dan guling.

Untuk menggerakkan potensi kelapa nasional sebagai produk unggulan, perlu kerjasama berbagai pihak, mulai dari petani, pemerintah, sampai investor. Nantinya bila industri pengolahan berkembang, jutaan petani kelapa juga tentu hidup lebih sejahtera.

Dadang WI, Selamet Riyanto, Faiz Faza, Ryan Masanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s