Noli L. Barri

PEREMAJAAN KELAPA BERBASIS USAHATANI POLIKULTUR PENOPANG PENDAPATAN PETANI BERKELANJUTAN

Oleh: Noli L. Barri, G261030031/AGK; Email: noli_barri@yahoo.com; @2003 Noli L. Barri Posted 6 December 2003

Makalah falsafah Sains (PPs 702), Program Pasca Sarjana/S3, Institut Pertanian Bogor, Desember 2003. Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung Jawab), Prof. Dr. Ir. Zahrial Cotto

Sumber: http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/noli_barri.htm

RINGKASAN

Program usahatani kelapa polikultur yang bertujuan untuk meningkatan pendapatan petani dapat diterapkan dan sesuai untuk pertanaman kelapa, sebagai salah satu komoditi ekspor sub sector perkebunan yang hampir dilupakan saat ini. Sasaran utama dari program usahatani kelapa polikultur adalah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan di pertanaman kelapa pada satu luasan (spatial) dan waktu (temporal) tertentu. Kendala utama peningkatan pendapatan petani kelapa saat ini adalah masih kentalnya kebiasaan membudidaya kelapa untuk tujuan usahatani monokultur. Hal tersebut terlihat dari masih digunakannya jarak dan sistem tanam kelapa konvensional yang diterapkan. Padahal, dengan cara ini fleksibilitas menerapkan pola usahatani polikultur menjadi sangat terbatas. Iklim mikro, terutama ketersediaan radiasi surya yang layak untuk tanaman sela tidak akan tersedia untuk semua tingkatan umur dengan sistem tanam kelapa yang diterapkan saat ini, sehingga ada waktu-waktu tertentu pola usahatani polikultur tidak dapat diterapkkan secara maksimal dan ini tentunya mengganggu jaminan keberlanjutan pendapatan petani kelapa. Teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa yaitu 5 x 16 m atau 6 x 16 m empat persegi (sistem pagar) pada program peremajaan kelapa sangat tepat untuk mendukung pola usahatani polikultur. Progam peremajaan yang sedang dan akan terus dilanjutkan di Indonesia sebagai upaya meningkatkan produksi tanaman kelapa akan lebih berhasil jika memberikan jaminan peningkatan pendapatan bagi petani peserta program ini. Kemungkinan keberhasilan tersebut akan lebih nyata jika program ini dikombinasikan dengan menerapkan teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa dengan berwawasan tanaman campuran (polikultur). Dari hasil pengujian lapang menyimpulkan bahwa usahatani polikultur secara agronomis tidak mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa. Selanjutnya, secara ekonomis, usahatani semacam ini justru meningkatkan pendapatan petani dibanding usahatani kelapa monokultur. Hasil simulasi analisis finansial dan uji sensitivitas terhadap beberapa pola tanam tanaman sela di program ini menunjukkan bahwa secara finansial pola usahatani polikultur layak untuk dikembangkan dengan nilai IRR > 100 dan Benefit Cost Ratio (BCR) > 1.5. Sedangkan uji sensitivitas menunjukkan bahwa tiga pola kombinasi tanaman sela yang akan diterapkan sebagai salah satu komponen usahatani polikultur lebih rentan terhadap terjadinya penurunan harga dan produk hingga 25%. Dengan kata lain, terjadinya penurunan tingkat produksi atau penurunan harga hingga 25% tidak akan terlalu mempengaruhi tingkat pendapatan petani, dimana pola yang diterapkan masih dapat memberikan keuntungan bagi petani pelaksana pola ini. Kesimpulan umum yang dapat diambil bahwa pendapatan petani kelapa dijamin akan berkelanjutan jika program peremajaan yang akan diterapkan menerapkan jarak dan sistem tanam baru kelapa disertai dengan usahatani polikultur.

I. PENDAHULUAN

Program pertanian komoditi terpadu dalam pembangunan pertanian dilaksanakan pemerintah sebagai upaya penyempurnaan terhadap apa yang telah dilakukan selama ini. Program semacam ini sudah dan terus digalakkan dengan menggunakan berbagai tanaman perkebunan sebagai tanaman pokok. Salah satu komoditi yang paling relevan untuk dijadikan objek program ini adalah tanaman kelapa.

Selain dari aspek morfologi, maka sistem dan pola tanam kelapa yang diterapkan sangat memungkinkan untuk mengintrodusir jenis komoditi lain. Tanaman yang dapat digunakan untuk program penanaman terpadu dengan kelapa hampir meliputi semua jenis tanaman, termasuk ternak.

Alasan lain pengembangan usahatani kelapa terpadu, atau biasa disebut dengan istilah polikultur dan istilah yang lagi popular saat ini adalah diversifikasi horizontal tidak lain adalah untuk peningkatan pendapatan petani. Karena melihat keadaan pasar saat ini, maka tidak lagi tepat jika petani hanya mengandalkan atau mengharapkan pendapatan yang tinggi dan konstan dari usahatani kelapa secara monokultur.

Adapun sasaran utama dari usahatani kelapa polikultur adalah dalam rangka meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan pada satu luasan dan waktu tertentu, jadi menyangkut aspek spatial dan temporal pada saat yang bersamaan yang luaran akhirnya adalah bertambahnya pendapatan petani dan tentunya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan. Permasalahan yang sering muncul dalam setiap upaya ini adalah tidak semua umur kelapa dapat dimanfaatkan atau diusahakan secara polikultur.

Faktor pembatas utama dalam usahatani polikultur adalah tidak fleksibelnya pemilihan jenis tanaman yang akan diusahakan karena pada umur-umur tertentu, justru areal di pertanaman kelapa tidak dapat dimanfaatkan. Penyebabnya antara lain karena tingkat naungan tinggi atau sebaliknya, radiasi surya yang diterima tidak layak untuk metabolisme tanaman. Akibat lain adalah unsur iklim mikro lainnya turut menjadi kendala bagi pertumbuhan tanaman atau mungkin ternak yang diusahakan pada pola usahatani ini.

Umumnya, jarak dan sistem tanam untuk kelapa Dalam, Hibrida, dan Genjah masing-masing 9×9, 8.5 x 8.5 , dan 7 x 7 m segitiga yang menghasilkan populasi per ha berturut-turut 143, 160, dan 236 pohon. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada jarak tanaman anjuran selama ini, maka secara efektif kelapa hanya memanfaatkan lahan sekitar 20% dari areal yang ditanami, atau sekitar 80 persen merupakan lahan tidur. Dalam praktek, pemanfaatan lahan di antara kelapa berpatokan pada jarak 2 m dari pangkal kelapa sehingga areal selebar 4 m sepanjang barisan kelapa tidak diolah. Dengan demikian, sekitar 60% lahan secara efektif masih dapat dimanfaatkan untuk tanaman lain.

Upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan di antara kelapa dapat ditempuh dengan memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi iklim mikro yang ada atau meningkatkan intersepsi radiasi surya agar sesuai dengan kebutuhan tanaman sela. Peningkatan intersepsi ini dapat dicapai dengan pemangkasan daun (Akuba, 1994), penjarangan tanaman (Kaat dan Allorerung, 1997), atau penyesuaian jarak dan sistem tanam kelapa (Allorerung dan Mahmud, 1994).

Berdasarkan pada kenyataan tersebut di atas, maka mengatur jarak dan sistem tanam baru tanaman kelapa merupakan alternatif yang lebih menguntungkan. Hal ini dapat dilakukan bersamaan dengan program peremajaan kelapa tua, dimana konsep pengaturan jarak dan sistem tanam baru memungkinkan petani dapat memanfaatkan lahan di antara kelapa sepanjang umur kelapa, kemudian mereka lebih fleksibel memilih jenis usahatani yang akan diterapkan. Hal ini dapat terjadi karena pada jarak dan sistem tanam baru iklim mikro tidak lagi menjadi kendala dan lahan yang tersedia cukup luas untuk diusahakan.

II. TEKNOLOGI PEREMAJAAN KELAPA

Kendala iklim mikro sebagai faktor dominan dapat diperkecil dengan mengatur jarak dan sistem tanam baru, yaitu dengan memperlebar jarak antar barisan. Konsep ini akan lebih bermanfaat dan efektif apabila diterapkan atau dilaksanakan bersama dengan program peremajaan kelapa yang berbasis tanaman campuran. Artinya pada saat yang bersamaan, usahatani polikultur dilaksanakan secara simultan dengan program peremajaan kelapa.

Meskipun sejumlah teknologi telah tersedia dan berbagai program telah diluncurkan dalam beberapa Pelita, ternyata peremajaan perkebunan kelapa rakyat berlangsung sangat seret. Sebagai gambaran perkiraan perkiraan yang disajikan oleh Soebiapradja (1991) bahwa pada tahun 1989 persentase tanaman tua telah menurun menjadi 6.74 dari 7.27% paada tahun 1984. Akan tetapi pada saat yang sama telah terjadi peningkatan areal tanaman baru dengan laju 4.86%. Ini berarti sebenarnya jumlah kelapa yang dikategorikan tua semakin banyak karena yang menurun adalah persentasenya tetapi nilai absolutnya meningkat karena laju penurunan tanaman tua lebih kecil dari peningkatan areal tanaman baru dan memang realisasi program peremajaan selalu jauh dari target. Data tersebut juga mengandung makna bahwa telah terjadi peremajaan tetapi dengan laju yang sangat kecil.

Teknologi peremajaan yang selama ini diterapkan terdiri atas dua sistem yaitu tebang habis (“land clearing”) dan sisipan. Sistem tebang habis digunakan dalam proyek-proyek pemerintah, termasuk saat dilaksanakan program pengembangan kelapa Hibrida, sedangkan sistem sisipan dilakukan secara tradisional oleh petani kelapa (Mahmud, Maliangkay, dan Untu. 1990).

Sistem tebang habis adalah seluruh kelapa tua ditebang, lalu kebun dibersihkan dari sisa tebangan, baru ditanami dengan kelapa pengganti. Biasanya disertai dengan penanaman tanaman penutup tanah sebelum atau segera setelah penanaman tanaman baru. Sistem inimenyebabkan petani kehilangan pendapatan dari kebun kelapanya selama empat tahun disusul periode pendapatan rendah 3 – 4 tahun untuk tanaman pengganti kelapa hibrida dan selama 7 tahun disusul pendapatan rendah 5-6 tahun untuk kelapa Dalam. Oleh karena itu, sistem ini tidak disukai petani, kecuali dilaksanakan program pengembangan kelapa Hibrida karena dibiayai pemerintah berupa kredit kepada petani. Program ini telah menjadi pengalaman traumatis bagi petani karena hampir semuanya tidak mampu mengembalikan kreditnya.

Adapun penerapan peremajaan dengan sistem sisipan yaitu dengan cara menanam tanaman pengganti di antara tanaman tua tanpa rencana penebangan kelapa tua yang jelas. Dalam banyak hal, tanaman tua dibiarkan tumbuh terus bersama tanaman baru atau hanya menjarangkan tanaman tua dan sisanya dibiarkan hingga mati secara alamiah. Akibatnya pertumbuhan tanaman baru tidak baik dan waktu pembungaan tertunda serta produksinya sangat rendah. Dengan demikian, produktivitas usahatani dalam jangka panjang tetap rendah kendati tanaman tua telah mati semua.

Untuk menerapkan konsep peremajaan dengan mengintrodusir jarak dan sistem tanam baru yang dikombinasikan dengan usahatani polikultur memang akan berhadapan dengan berbagai masalah atau hambatan. Adapun kemungkinan masalah atau tantangan tersebut antara lain:

  1. Sebagian besar tanaman kelapa tua yang dimiliki merupakan warisan. Keeratan hubungan kekeluargaan dalam budaya masyarakat kita dapat mengatasi pertimbangan ekonomi sehingga petani enggan menebang kelapa tua yang diwarisi.
  2. Daya nalar petani kita umumnya belum mampu memasukkan pertmbangan-pertimbangan ekonomi dalam pengelolaan usahataninya. Mereka sulit memahami bahwa kelapanya yang sudah tua tetapi tetap berbuah, sebenarnya sudah tidak efisien dan ekonomis lagi. Disamping itu, tidak mudah bagi mereka untuk membayangkan prospek jauh kedepan dari program peremajaan yang ditawarkan ini.
  3. Tidak adanya pembanding bagi petani bahwa dengan penerapan teknologi yang tepat (seperti peremajaan misalnya) sungguh-sungguh dapat memberikan manfaat. Selain itu, umur produktif kelapa yang melampaui rata-rata umur penduduk menyebabkan petani sulit memahami secara utuh perubahan yang terjadi pada kelapanya.
  4. Harga jual produk tradisional kelapa seperti kopra yang sangat bergejolak pada tingkat yang rendah menyebabkan petani sulit mendapatkan cukup modal untuk melakukan investasi untuk peremajaan kelapa.
  5. Tingkat ketergantungan yang cukup besar pada kelapa sebagai sumber nafkah dan tidak adanya jaminan bahwa produk kelapa dapat menyediakan uang kontan secara teratur menyebabkan petani tidak rela untuk meremajakan kelapanya.
  6. Program peremajaan selama ini belum disertai upaya program lainnya yang secara memadai dapat meningkatkan pendapatan petani serta mengurangi dampak berkurangnya/terhentinya produksi kelapa akibat peremajaan. Sebagai contoh, program pengembangan berbagai komoditas lain seperti kakao, jagung, palawija, dan lain-lain belum dikaitkan dengan peremajaan.
  7. Disamping itu, pemanfaatan kayu kelapa belum dimasukkan sebagai bagian integral dari program peremajaan, atau masih kurangnya konsep bagaimana memanfaatkan batang kelapa hasil peremajaan agar lebih mendorong petani melakukan peremajaan.
  8. Lemahnya kelembagaan pada tingkat petani serta keterbatasan dan ketidakjelasan dukungan instrumen kebijakan, yang memungkinkan keterlibatan pemilik modal untuk berkiprah dalam peremajaan dan pasca peremajaan

Pemilihan sistem peremajaan tidak semata-mata didasarkan atas kelayakan teknis, tetapi terutama aspek sosial/budaya dan ekonomi, sistem tebang bertahap sebesar 20% per tahun dari kelapa tua diharapkan dapat menjadi kompromi paling optimal dari aspek-aspek tersebut. Keberhasilan program peremajaan di lapang atau di tingkat petani akan lebih nyata jika faktor-faktor tersebut dipertimbangkan betul. Namun satu hal yang sudah harus ditangani dari aspek budidaya adalah bagaimana mengatur jarak dan sistem tanam kelapa yang memberikan jaminan berkelanjutan baik dari aspek spatial dan temporal yang mendukung kesinambungan pendapatan petani.

Konsep peremajaan nampaknya akan lebih berhasil jika pendapatan atau kehidupan sosial ekonomi petani tidak terganggu dengan sistem atau program tersebut. Berdasarkan pengalaman di beberapa negara produsen kelapa yang lebih maju, maka mengintegrasi program peremajaan, pengaturan teknik budidaya kelapa, seperti pengaturan jarak dan sistem tanam, serta dikombinasikan dengan usahatani campuran/polikultur cukup berhasil.

III. JARAK DAN SISTEM TANAM BARU KELAPA

Pengusahaan tanaman sela di antara kelapa sudah tidak diragukan lagi manfaatnya bagi peningkatan pendapatan petani dan belum ada bukti adanya pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa. Bahkan sebaliknya dapat meningkatkan produksi kelapa. Meskipun demikian, pemanfaatan sumbedaya lahan tersebut belum mencapai tingkat optimal.

Upaya peningkatan optimalisasi sumberdaya lahan tersebut berkaitan dengan dua aspek yaitu (a) aspek spatial (ruang) dan (b) aspek temporal (waktu). Aspek spatial berkaitan dengan maksimum areal yang dapat digunakan untuk tanaman lain pada tingkat populasi atau produksi kelapa yang relatif sama. Sementara aspek temporal berkaitan dengan kontinuitas dan jangka waktu pemanfaatan lahan di antara kelapa yang berhubungan dengan tersedianya iklim mikro yang sesuai sepanjang usahatani polikultur akan diterapkan. Kedua aspek ini menentukan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan sumberdaya lahan di antara kelapa secara berkelanjutan.

Hingga saat ini di tingkat petani maupun perkebunan besar, jarak dan sistem tanam kelapa konvensional adalah 8.5×8.5 m, 9×9 m atau 10×10 m dengan sistem tanam segitiga atau segiempat. Pada jarak dan sistem tanam ini usahatani polikultur mengalami kendala yang cukup berarti baik dari aspek spatial maupun temporal. Untuk itu dikembangkan konsep pengaturan jarak dan sistem tanam baru tanpa mengurangi secara drastik populasi tanaman kelapa per satuan luas dan menyediakan potensi lahan dan iklim mikro yang besar untuk usahatani polikultur. Sebagai perbandingan, maka dalam Tabel 1 disajikan jumlah populasi dan luas lahan di antara kelapa yang dapat dimanfaatkan.

Terlihat dalam Tabel 1 bahwa dengan jarak tanam konvensional 9 x 9 m distem segi tiga dan segi empat menyediakan lahan untuk tanaman lain lebih sedikit dibanding jarak dan sistem tanam lainnya. Dengan demikian, perubahan jarak dan sistem tanam yang dianjurkan dapat meningkatkan luas areal efektif di antara kelapa. Contohnya pada jarak 5 x 16 sistem empat persegi (sistem pagar) dengan populasi relatif sama dengan jarak tanam 9 x 9 m sistem segi tiga, dapat meningkatkan areal efektif di antara kelapa dari 4.560 m2 menjadi 7.200 m2 artinya luas lahan yang dapat dimanfaatkan bertambah 57.8%.

Menurut Nelliat, Bavappa and Nair (1974) radiasi surya pada pertanaman kelapa jarak 9 x 9 m sistem segi tiga berkurang secara nyata dan mencapai titik terendah sekitar 20% pada umur tanaman 10 – 20 tahun. Pada umur kelapa 7 – 40 tahun radiasi surya hanya sekitar 50% dan pada kondisi ini hanya beberapa komoditas yang dapat diusahakan di antara pertanaman kelapa, padahal permintaan pasar mungkin tidak sesuai dengan apa yang diusahakan. Umumnya pada kisaran umur kelapa tersebut di atas, praktis hampir semua komoditi pangan atau “cash crops” tidak dapat diusahakan, padahal jenis tanaman inilah yang diharapkan dapat menopang pendapatan petani sebagai konsekuensi mengusahakan tanaman kelapa yang harga produknya dipasaran sangat fluktuatif dan bermain pada kisaran harga yang tidak ekonomis.

Dengan mengatur jarak dan sistem pagar, areal di antara barisan tanaman dapat memperoleh cahaya yang cukup sepanjang umur kelapa. Selanjutnya, agar intensitas radiasi surya maksimal, maka sejauh mungkin diatur arah barisan tanaman Timur-Barat dan dapat dikombinasikan dengan melakukan pemangkasan daun yang menjuntai ke arah areal di antara barisan. Pemangkasan daun dimungkinkan hingga 30% dari total biomass tajuk (Kaat, Maliangkay dan Tumewu, 1996; Mashud. dkk., 1996). Dengan demikian, dapat diusahakan penanaman berbagai jenis tanaman sela yang membutuhkan intensitas radiasi surya yang tinggi sepanjang waktu, mulai dari tanaman pangan, hortikultura hingga tanaman perkebunan. Jika tanaman yang diusahakan memerlukan tingkat radiasi surya rendah, maka bisa diadakan penanaman tanaman pelindung sementara.

IV. IKLIM MIKRO PADA PERTANAMAN KELAPA

Secara teoritis, sebenarnya keuntungan jarak dan sistem tanam baru ini adalah membaiknya sirkulasi angin dan CO2 baik untuk tanaman pokok maupun tanaman sela yang pada akhirnya akan meningkatkan proses fotosintesa. Akuba (1994) mendapatkan tingkat produksi kelapa di bagian tengah dari persil-persil kelapa di PT. Riau Sakti yang luas adalah rendah dibandingkan produksi kelapa yang ada di bagian pinggiran persil, dan diduga karena terhambatnya sirkulasi CO2. Dengan terbentuknya struktur tanaman dalam barisan kelapa dan di antara barisan dengan ketinggian yang sangat kontras diharapkan dapat menimbulkan turbulensi udara dan mempermudah aliran udara pembawa CO2 secara merata ke semua tajuk pohon kelapa dan tanaman sela.

Struktur tajuk sistem tanam baru menyebabkan ketersediaan lahan dan iklim mikro di bawah kelapa menjadi spesifik dibanding areal perkebunan lainnya. Pada dasarnya, pola pertanaman kelapa telah memberikan peluang potensial untuk pelaksanaan usahatani polikultur. Keberhasil program ini akan lebih nampak jika kajian lengkap mengenai pola iklim mikro di pertanaman kelapa telah tersedia dan dimanfaatkan.

Iklim sebagai salah satu komponen dalam suatu sistem produksi tanaman, tidak hanya menyediakan unsur-unsur yang esensial dalam proses fisiologis tanaman, tetapi juga mempunyai gatra fisik dalam pengelolaan perkebunan (Las dan Bey, 1989). Iklim mikro berperan mulai dari proses fotosintesis, respirasi, transpirasi, hingga stimulasi hormonal dan enzim-enzim tanaman (Chang, 1974; Larcher, 1983). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa iklim sudah mulai berperan sejak perkecambahan, fase pembibitan, pematangan buah/biji, panen, dan pasca panen.

Iklim mikro menurut Rozari (1990) didefinisikan sebagai iklim dalam ruangan terkecil yang masih berada dalam pengaruh objek. Objek yang dimaksud bisa pohon, pertanaman, rumah, hutan dan lainnya yang dekat dari beberapa atau satu unsur iklim mikro. Lebih sempit lagi, Rosenberg. Blad, and Verma (1983) membatasi iklim mikro adalah iklim dekat tanah (“the climate near the ground”) yaitu tempat dimana tumbuhan dan hewan hidup.

Bagi tanaman kelapa, batasan iklim yang optimal menurut Fremond, Ziller and Lamothe (1966) adalah curah hujan minimal 130 mm per bulan, bulan kering (curah hujan kurang 130 mm) tidak boleh lebih dari tiga bulan berturut-turut, suhu optimal 27 – 28oC, lama penyinaran sekitar 2.000 jam per tahun, kelembaban relatif sekitar 80 – 90%. Dari persyaratan ini, terlihat bahwa umumnya persyaratan bagi kelapa hampir mewakili syarat kesesuaian untuk sebagian besar tanaman, kecuali batasan curah hujan yang dipatok terlalu tinggi, padahal untuk kebanyakan tanaman (pangan) hanya sekitar 100 mm per bulan, tapi ini sebenarnya dapat diatasi dengan mengatur pola atau jadual tanamnya.

Hingga saat ini, unsur iklim yang masih dominan sebagai faktor kendala dalam sistem usahatani polikultur dengan dasar kelapa adalah radiasi surya. Bagi pertanaman kelapa berumur dibawah 6 tahun atau lebih dari 60 tahun, hal ini tidak menjadi kendala, tapi tidak untuk umur lainnya. Dalam dinamika iklim mikro, maka faktor utama adalah neraca air dan neraca bahang, kedua hal ini langsung dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas radiasi surya. Itulah sebabnya faktor radiasi surya menjadi komponen utama yang harus dipertimbangkan dalam pola usahatani polikultur. Sehubungan dengan hal tersebut, maka bagi pertanaman kelapa terdapat lima stadia umur kelapa yang berhubungan dengan agihan radiasi surya yaitu:

Stadia pertama. Pada stadia ini, umur kelapa umumnya antara 4 hingga 6 tahun. Radiasi yang masuk di areal pertanaman kelapa cukup, karena penutupan tajuk terhadap areal masih minimal.

Stadia kedua. Umur kelapa antara 7 hingga 10 tahun. Pada stadia ini, batang kelapa mulai meninggi, pertumbuhan tajuk sudah mencapai perketumbuhan, perkembangan dan ukuran penuh. Jika jarak tanam kurang dari 8 x 8 m, maka dari hasil simulasi ternyata radiasi surya yang masuk di areal pertanaman kelapa hanya 20%.

Stadia ketiga. Umur kelapa pada stadia ini umumnya antara 25 hingga 30 tahun. Radiasi surya yang masuk di areal pertanaman kelapa sama stadia kedua, dimana radiasi yang diintersep tajuk kelapa dalam suatu pertanaman bisa mencapai 80% (Nair dan Balakrishnan dalam Darwis, 1989).

Stadia keempat. Pada stadia ini, umur kelapa umumnya antara 30 hingga 50 tahun. Nair. et al. dalam Darwis (1989) melaporkan bahwa pada tanaman kelapa berumur 30 tahun, transmisi radiasi surya yang masuk di areal pertanaman kelapa hanya 30%. Pengukuran lain menyatakan hanya 23%, dan pada umur 40 tahun hanya 33% dan diumur 43 tahun hanya 43%.

Stadia kelima. Pada stadia ini, umur kelapa lebih dari 50 tahun. Pada umur kelapa seperti ini, radiasi surya tidak lagi menjadi kendala. Pada tengah hari (mid-day) transmisi cahaya bisa mencapai 85%.

Beberapa sifat varietas kelapa juga ikut mempengaruhi besarnya transmisi radiasi surya seperti misalnya: kecepatan tumbuh, jumlah pelepah, panjang dan lebar daun/pelepah, posisi pelepah di batang (sudut yang dibentuk antara batang dengan daun kelapa), dan tinggi tanaman atau panjang batang. Hasil observasi iklim mikro di bawah pertanaman kelapa di Indonesia sampai saat ini masih sangat minim. Kalaupun ada, maka biasanya pengukuran hanya terbatas pada magnitude radiasi yang diterima, sedangkan unsur iklim mikro lainnya seperti suhu, kelembaban, angin (kecepatan dan arah) jarang atau tidak pernah diukur. Biasanya penggunaan tanaman indikator juga digunakan untuk melihat kesesuaian iklim mikro di bawah pertanaman kelapa. Metode yang digunakan adalah hanya dengan membandingkan hasil akhir atau hasil analisis pertumbuhan tanaman sela yang ditanam di areal terbuka disekitar pertanaman kelapa dengan yang ditanam di bawah pertanaman kelapa. Penelitian serius untuk mengkaji hubungan antara iklim mikro dengan arsitektur tajuk atau pertanaman kelapa belum begitu serius dilakukan di Indonesia, kedala utamanya adalah peralatan perekam data iklim mikro yang masih terbatas (umumnya mahal).

Pengaturan atau penerapan jarak dan sistem tanam baru kelapa, yaitu dengan jarak antar barisan tanaman 16 m memberikan jaminan bahwa kendala iklim mikro untuk usahatani polikultur sudah dapat diatasi. Karena tersedianya ruang yang lebih luas dan iklim mikro yang lebih mudah diseesuaikan akan membuka peluang fleksibilitas bagi petani dalam memilih komoditas yang akan diusahakan. Hal ini juga memungkinkan pencapaian produksi tanaman sela secara maksimal.

Dengan demikian, akan tercapai optimalisasi pemanfaatan lahan di antara kelapa baik dalam prespektif spatial maupun temporal. Salah satu kelemahan dari tinggiya intensitas radiasi surya karena lebarnya jarak antar barisan tanaman adalah terangsangnya pertumbuhan gulma. Ini berarti, pilihan atas jarak dan sistem tanam non-konvensional ini menuntut persyaratan pemanfaatan lahan di antara kelapa secara terus menerus atau ditanami dengan tanaman berumur panjang atau tanaman tahunan.

V. USAHATANI POLIKULTUR DALAM PROGRAM PEREMAJAAN

Pemanfaatan lahan di antara kelapa di masa depan sangat strategis mengingat areal pertanian makin terbatas sedangkan jumlah keluarga petani makin meningkat, penyediaan lapangan kerja di pedesaan, dan peningkatan produksi pangan dan bahan baku berbagai agroindustri. Secara teoritis, Sekitar 50-75% lahan di antara kelapa yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman lain. Ini berarti tersedia setara 2.2 hingga 2.8 juta ha lahan pertanian di antara 3.74 juta ha areal kelapa saat ini (Allorerung, Barri, dan Amrizal. 1999).

Hasil-hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengolahan tanah dan penanaman tanaman sela di antara kelapa tidak menyaingi kelapa, bahkan terbukti malah meningkatkan produksi kelapa (Nelliat, Bavappa, Nair, 1974; Gomez and Gomez, 1983; Maskar, 1988). Perbandingan pendapatan petani kelapa yang diusahakan secara monokultur dan polikultur disajikan dalam Tabel 2.

Terlihat dalam Tabel 2 bahwa pendapatan petani yang usahatani kelapanya monokultur lebih rendah dibanding yang polikultur, demikian juga dengan produksi buah kelapa, ternyata polikultur dapat meningkatan produksi. Hal ini dapat terjadi karena kegiatan pemupukan tanaman sela, penggemburan tanah, serta tindakan budidaya lain yang dilakukan terhadap tanaman sela berdampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa. Jadi pada dasarnya usahatani polikultur samasekali tidak mengganggu atau berdampak negatif terhadap tanaman pokok (kelapa).

Hasil analisis kelayakan finansial berdasarkan simulasi data dan pola usahatani yang dilakukan penulis untuk luasan 0.75 hektar kelapa (75% dari areal di antara kelapa yang dapat dimanfaatkan) dengan introduksi tanaman pangan jagung, kacang tanah, dan padai jarak tanam kelapa 5 x 16 m sistem empat persegi (sistem pagar), didapatkan bahwa sepanjang tahun petani dapat mengkombinasikan secara bergiliran ketiga jenis tanaman pangan tersebut. Asumsi produksi jagung, padi ladang, dan kacang tanah per ha yang digunakan menghitung analisis finansial kelayakan usahatani polikultur ini berturut-turut 1.8 ton, 1.5, dan 1.5 ton per tahun. Sedangkan harga untuk masing-masing tanaman sela tersebut adalah Rp. 1.000.-/kg, Rp. 2.000.-/kg, dan Rp. 7.000.-/kg. Tingkat “discount factor” yang digunakan adalah 15% dengan jangka waktu proyek selama 40 tahun.

Hasil analisis kelayakan ini menunjukkan bahwa kecuali kombinasi pergiliran tanaman jagung dan padi di bawah kelapa, maka kombinasi lainnya menunjukkan kelayakan finansial yang menguntungkan bagi petani (Tabel 3).

Modal kerja yang diperlukan untuk kombinasi polikultur A, B, dan C pertahun berturut-turut sebesar Rp. 10.2 juta, Rp. 11.1 juta, dan Rp. 11.3 juta.

Selanjutnya, untuk melihat rentan tidaknya pola ini terhadap fluktuasi produksi dan harga di tingkat pasar, maka disimulasi tiga skenario yang mungkin akan terjadi dan berdasar pada dinamika umum yang berlaku bagi produk pertanian. Ketiga skenario tersebut adalah (a) tingkat produksi diasumsikan turun 25%, (b) tingkat harga turun 25%, dan (c) kombinasi dari keduanya, yaitu produksi dan harga turun masing-masing sebesar 25%. Dalam analisis sensitivitas ini, pola polikultur D tidak dimasukkan dalam perhitungan lagi. Hasil simulasi sensitivitas menunjukkan bahwa pola polikultur A, B, dan C masih dapat diterapkan petani meskipun skenario (a) atau (b) terjadi. Seandainya skenario (c) yang terjadi dimana produk dan harga serentak turun 25%, maka ketiga pola usahatani polikultur (A,B, dan C) tidak layak untuk dikembangkan.

Jadi pada akhirnya, upaya program peremajaan yang menerapkan jarak dan sistem tanam baru disertai dengan usahatani polikultur tidak merugikan petani, kalaupun terjadi, maka masih ada jalan keluar yang dapat memperkecil kehilangan pendapatan petani, yaitu dengan program diversifikasi vertikal, yaitu menganekaragamkan produk kelapa. Jadi pada kondisi tersebut petani diharapkan mampu mengembangkan produk primer kelapa ke produk sekunder bahkan sampai tersier yang umumnya punya nilai jual yang tinggi. Teknologi untuk untuk menopang keinginan tersebut sudah banyak tersedia dan beberapa dapat diterapkan ditingkat petani, dan dianjurkan dalam bentuk kelompok tani kelapa.

VI. PENUTUP

· Program usahatani kelapa polikultur tidak dapat dielakkan lagi untuk terus diupayakan menggantikan pola monokultur yang ada selama ini. Hal ini perlu dilakukan karena alternatif terbaik untuk minimal mempertahankan atau meningkatkan pendapatan petani secara berkelajutan.

· Program peremajaan kelapa perlu terus dilaksanakan mengingat makin luasnya areal kelapa tua yang tidak produktif. Sasaran program ini adalah untuk meningkatkan produksi kelapa dalam posisinya sebagai salah satu komoditi ekspor Indonesia yang masih prospektif dan banyak melibatkan keluarga petani.

· Pendapatan petani yang berkelanjutan dalam program peremajaan yang dikombinasikan dengan usahatani polikultur hanya dapat terjadi jika ditunjang oleh sistem budidaya kelapa yang lebih modern. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa.

· Jarak dan sistem tanam baru yang bertujuan untuk menyediakan ruang (spatial) di antara kelapa yang lebih maksimal untuk dimanfaatkan oleh tanaman lain, sekaligus terciptanya iklim mikro (khususnya radiasi surya) yang menjamin fleksibilitas tinggi penerapan berbagai pola usahatani polikultur. Jarak dan sistem tanam 5 x 16 m atau 6 x 16 m empat persegi ternyata menyediakan lahan sekitar 7.200 m2 atau 70% dari total luasan pertanaman kelapa untuk dapat dimanfaatkan bagi usahatani polikultur.

· Usahatani polikultur berbasis tanaman kelapa samasekali tidak mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sebagai tanaman pokok. Pendapatan petani dengan pola ini ternyata lebih tinggi dibanding monokultur. Beberapa sistem usahatani tanaman sela yang diterapkan sesuai hasil simulasi memberikan kesimpulan umum bahwa usahatani polikultur layak untuk diterapkan oleh petani. Tingkat sensitivitas terhadap dinamika produksi dan harga tidak begitu tinggi, artinya pola tersebut rentan terhadap penurunan produksi atau harga hingga 25%.

PUSTAKA

Akuba, R.H. 1994. Dampak pemangkasan dun kelapa teradap produksi dan iklim mikro. Bull. Balitka 23:84-91

Allorerung, D dan Z. Mahmud. 1994. Budidaya kelapa sistem pagar. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa III. Yogyakarta 20 – 23 Juli 1993. pp. 481-493

Allorerung, D., N.L. Barri, dan Amrizal. 1999. Teknologi Peremajaan Kelapa Berwawasan Pertanaman Campuran. Prosiding Simposium Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan. Buku 2. pp. 207 –221

Chang, J.H. 1974. Climate and agriculture (an ecological survey). Aldine Publishing Company. Chichago.

Darwis, S.N. 1988. Tanaman sela di antara kelapa. Seri Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Bogor.

Fremond, Y. M., Robert Ziller., de Nuce de Lamothe. 1996. The coconut palm. Int. Potash Inst.

Gomez, A.A and K.A. Gomez. 1983. Multiple cropping in the humid tropics of Asia. International Development Research Center (IDRC). Ottawa, Canada.

Kaat, H., R.B., Maliangkay dan R. Tumewu. 1996. Hubungan pengurangan biomassa panjang rachis daun dengan produksi kelapa. Laporan penelitian (tidak dipublikasi).

Kaat, H dan D. Allorerung, 1997. dampak komposisi tanaman sela dan tingkat kepadatan populasi kelapa terhadap produktivitas kelapa. Laporan observai Kebun Percobaan (tidak dipublikasi).

Larcher, W. 1983. Physiologycal plant ecology (translated by M.A. Biederman-Thorson). Springer-Verlag. New York.

Las Irsal dan A. Bey. 1989. Monitoring, observasi, dan pengolahan data iklim dalam pengelolaan perkebunan (Suatu tinjauan deskriptiv). Bahan Kuliah-IPB. Bogor.

Mahmud, Z., R.B. Maliangkay., dan Z. Untu. 1990. Peremajaan kelapa tebang bertahap. Prosiding symposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri Buku II. Pp. 114-120.

Mashud, N., A. Ilat, H. Kaat, dan Z. Untu. 1996. Hubungan pengurangan biomassa pinak daun dengan produksi kelapa. Laporan penelitian (tidak dipublikasi)

Maskar, K. 1988. Nilai tambah tanaman sela di bawah kelapa. Jurnal Penelitian Kelapa. Vol. 2. No. 2. Balai Penelitian Tanaman Kelapa.

Nelliath, E.V., K.V. Bavappa, and P. Nair. 1974. Multistorage cropping, A new dimension in multicropping for coconut plantation. World Crop.

Soebiapradja. 1991. kebijakan dan peranan pemerintah dalam penembangan kelapa di Indonesia. Makalah Seminar Ekonomi Perkelapaan. Batam, Riau 15 – 17 Januari 1991.

Rosenberg, N.J., Blaime, L. Blad and Shashi B. Verma. 1983. Microclimate. The biological environment. John Wiley & Sons. New York.

Rozari, M. Bl. 1990. Iklim Mikro. Bahan kuliah IPB-Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s