Zainal Mahmud dan Yulius Ferry

Prospek Pengolahan Hasil Samping Buah Kelapa

ZAINAL MAHMUD DAN YULIUS FERRY

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Indonesian Center for Estate Crops and Development); Jalan Tentara Pelajar No.1 Bogor 16111

Perspektif, 56 – Volume 4 Nomor 2, Desember 2005 : 55 – 63

Sumber: http://docs.google.com/perkebunan.litbang.deptan.go.id/

ABSTRAK

Daging buah adalah komponen utama dari buah  kelapa; sedangkan sabut, tempurung, dan air buah  merupakan hasil samping (by-product). Dengan  produksi buah kelapa di Indonesia rata-rata 15,5 milyar  butir/tahun, total bahan ikutan yang dapat diperoleh  3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta  ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut sebagai  hasil samping. Kelayakan usaha pengolahan hasil  samping buah kelapa sangat menjanjikan bila  direncanakan dan dikelola dengan baik. Berdasarkan  analisis finansial tahun 2004, B/C dan IRR pengolahan  sabut menjadi serat dan debu sabut selama 10 tahun  adalah 3,58 dan 76%; tempurung menjadi arang selama  5 tahun 1,11 dan 23%; dan air kelapa menjadi nata de coco selama 5 tahun 1,32 dan 32%. Pengembangan  industri pengolahan hasil samping harus ditunjang  oleh kelayakan teknis terutama ketersediaan pasokan  bahan baku dan pemasaran, serta alat pengolahan yang  sesuai untuk pengolahan sabut. Untuk mendapatkan  bahan baku yang cukup bagi pengolahan sabut  diperlukan areal kelapa seluas 300 ha. Pengolahan  sabut ini harus dipadukan dengan pengolahan debu  sabut menjadi kompos sehingga diperoleh pendapatan  tambahan. Untuk memproduksi 1 ton serat sabut  diperoleh sekitar 5 ton debu sabut. Lokasi pengolahan  hasil samping sebaiknya di sekitar sumber bahan baku  dan untuk menjamin kontinuitas pengadaan dan  pemasaran produk disarankan usaha-usaha tersebut dalam bentuk usaha bersama.

Kata kunci: Kelapa, Cocos nucifera L., pengolahan, hasil samping

ABSTRACT

Prospect of Coconut By-Product Processing  Coconut meat is the main component of coconut, while  the coconut husk, shell, and water are considered as byproduct.  With the coconut production in Indonesia at  average of 15.5 billion coconuts per year, the total byproduct  is accumulated to 3.75 million tons coconut  water, 0.75 million tons shell charcoal, 1.8 million tons  coconut fiber, and 3.3 million tons coir dust. Business in  coconut by-product processing is condidered to be  prospective as long as it is planned and managed  properly. Based on the financial analysis in 2004, the  B/C and IRR of coconut husk processing into coconut  fiber and coir dust for 10 years were 3.58 and 76%,  coconut shell into shell charcoal for 5 years was 1.11  and 23%; and coconut water into nata de coco for 5  years was 1.32 and 32%. The industry of coconut byproduct  processing should be supported by technical  feasibilty, mainly the raw material availability, market,  and appropriate coconut husk machinery. To provide  sufficient raw material for coconut husk processing, it  needs about 300 ha of coconut plantation. Furthermore,  to abtain additional farmer’s income the coconut husk  processing should be integrated with coir dust  processing into compost, so that it can earn additional  income. To produce one ton of coconut fiber will  produce 5 tons of coir dust. It suggested that the  location of coconut by-product processing is better  closed to the raw material source, and to secure the  continuity of raw material supply and product  marketing the business should be run in the form of cooperation.

Key words: Coconut, Cocos nucifera L., processing, by product

PENDAHULUAN

Produksi buah kelapa Indonesia rata-rata  15,5 milyar butir/tahun atau setara dengan 3,02  juta ton kopra, 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton  arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3  juta ton debu sabut (Agustian et al., 2003;  Allorerung dan Lay, 1998; Anonim, 2000; Nur et  al., 2003; APCC, 2003). Industri pengolahan buah  kelapa umumnya masih terfokus kepada  pengolahan hasil daging buah sebagai hasil  utama, sedangkan industri yang mengolah hasil  samping buah (by-product) seperti; air , sabut, dan  tempurung kelapa masih secara tradisional dan  bersekala kecil, padahal potensi ketersediaan  bahan baku untuk membangun industri  pengolahannya masih sangat besar.

Tidak hanya dari segi jumlah, dari segi jenis  produk hilirpun, pengolahan hasil buah kelapa  juga masih mempunyai peluang cukup besar.  Daging buah kelapa yang selama ini hanya diolah  menjadi kopra, crude coconut oil (CCO), dan  minyak goreng, mempunyai peluang dikembangkan  menjadi industri oleochemical, oleofood,  desicated coconut, dan lain-lain produk yang  memiliki nilai ekonomi tinggi (Rumokoi dan  Akuba, 1998; BNI 1946, 1990). Demikian juga  halnya dengan hasil samping buah, sabut menjadi  industri serat sabut, cocopeat, tempurung  menjadi tepung tempurung, karbon aktif, dan air  kelapa menjadi nata de coco. Bahan tersebut  merupakan bahan baku pada industri; matras,  kasur, pot, kompos kering, aneka makanan dan  lain sebagainya (Richtler dan Knaut, 1984; Istina et al., 2003.).

Kalau hanya memfokuskan pengolahan buah  kelapa pada daging buah saja menyebabkan  harga kelapa tertinggi hanya mencapai rata-rata  Rp 1.500,-/butir, yang artinya pendapatan petani  kelapa dengan kepemilikan rata-rata 0,5 ha hanya  mencapai Rp 3.750.000,-/tahun, pendapatan yang  sangat rendah untuk petani dapat hidup layak.  Salah satu usaha untuk meningkatkan pendapatan  petani kelapa adalah dengan mengolah  semua komponen buah menjadi produk yang  bernilai tinggi, sehingga nilai buah kelapa akan  meningkat. Sebagai contoh tempurung kelapa,  kalau diolah menjadi arang tempurung harganya  US$ 175/ton, kalau diolah menjadi arang aktif  harganya mencapai US$ 742/ton, ini berarti  peningkatan nilai arang tempurung ke arang  aktif sebesar US$ 567/ton atau 324% (PKAO,  1989). Dengan demikian nilai ekonomi kelapa  tidak lagi berbasis kopra (daging buah), seperti di  Philipina, dari total ekspornya (US$ 920 juta) 49%  diantaranya berasal bukan dari CCO tetapi dari  hasil olahan lain termasuk pengolahan hasil samping (Allorerung et al., 1998).

Dari data yang dihimpun oleh Asia Pasific  Coconut Community (APCC, 2001) bahwa  konsumsi kelapa segar dari sekitar 220 juta  penduduk Indonesia mencapai 8,15 milyar butir  (52,6%), dengan konsumsi per kapita per tahun  sebanyak 37 butir. Sisanya sebanyak 7,35 milyar  butir (47,4%) diolah menjadi 1,43 juta ton kopra  (Agustian et al., 2003; Rindengan dan Karaow,  2003). Dari 1,43 juta ton kopra di atas 85-90%  diolah menjadi crude coconut oil (CCO) dan  sisanya (10-15%) untuk olahan lanjutan. Dari  angka-angka ini menunjukkan bahwa kegunaan  buah kelapa beragam dengan pengguna yang  juga tersebar. Hal ini menyebabkan bahan baku  hasil samping kelapa tersebar, sehingga  memerlukan strategi, kelembagaan dan implikasi  yang tepat untuk membangun industri hilir tersebut.

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan  beberapa program diversifikasi di pedesaan  untuk menghasilkan produk setengah jadi dari  hasil samping buah kelapa seperti arang  tempurung, serat sabut, cocopeat, nata de coco,  yang dapat dikaitkan dengan industri berteknologi  tinggi untuk selanjutnya diolah sesuai  dengan mutu dan jenis produk untuk memenuhi  pasar internasional serta strategi, bentuk kelembagaan  dan implikasi program diversifikasi produk tersebut.

Buah Kelapa

Tanaman kelapa disebut juga tanaman  serbaguna, karena dari akar sampai ke daun  kelapa bermanfaat, demikian juga dengan  buahnya. Buah adalah bagian utama dari  tanaman kelapa yang berperan sebagai bahan  baku industri. Buah kelapa terdiri dari beberapa  komponen yaitu sabut kelapa, tempurung kelapa,  daging buah kelapa dan air kelapa. Daging buah  adalah komponen utama yang dapat diolah  menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.  Sedangkan air, tempurung, dan sabut sebagai  hasil samping (by product) dari buah kelapa juga  dapat diolah menjadi berbagai produk yang nilai  ekonominya tidak kalah dengan daging buah  (Lay dan Pasang, 2003; Maurits, 2003; Nur et al.,  2003). Berbagai produk dapat dihasilkan dari buah kelapa (Gambar 1.)

Gambar 1. Berbagai produk yang dihasilkan dari buah kelapa

Mutu bahan baku dari buah kelapa  dipengaruhi oleh karakter fisiko-kimia komponen  buah kelapa, yang secara langsung dipengaruhi  oleh jenis dan umur buah kelapa; secara tidak  langsung oleh lingkungan tumbuh dan  pemeliharaan. Lingkungan tumbuh yang sesuai  dan pemeliharaan yang baik akan menghasilkan  bahan baku bermutu untuk diolah lebih lanjut (Rindengan et al., 1995; Tenda et al., 1999).

Secara umum, kelapa terdiri atas tiga jenis,  yaitu kelapa Dalam, kelapa Genjah, dan kelapa  Hibrida. Ketiga jenis kelapa ini berbeda saat  mulai berbuah, jumlah produksi buah, dan  komposisi kimia buah. Faktor yang sangat  mempengaruhi mutu bahan baku hasil samping  kelapa adalah komposisi kimia buah. Kelapa  Dalam kandungan selulosa, pentosa, lignin, dan  arang, pada tempurung serta sabut lebih tinggi  dari pada kelapa Genjah dan Hibrida, sedangkan  kelapa Genjah dan Hibrida kadar abunya yang  lebih tinggi. Kondisi ini menyebabkan untuk  industri arang dan serat sabut mutu buah kelapa  Dalam lebih baik dibandingkan dengan buah  kelapa Genjah dan Hibrida. Untuk industri air kelapa ke tiga jenis kelapa ini tidak jauh berbeda.

Umur buah menunjukkan tingkat  pertumbuhan buah kelapa, dimulai pada bulan  ketiga, berat buah maksimum dicapai pada bulan  ke tujuh, sedangkan volume pada bulan ke  delapan. Tempurung terbentuk pada bulan ke  tiga dan mencapai maksimum pada bulan ke  sembilan. Daging buah mulai terlihat pada bulan  ketujuh dan mencapai berat maksimum pada  bulan ke duabelas. Pada bulan ke tujuh pada saat  berat buah maksimum proporsi komponen buah  terdiri atas 62% sabut, 7% tempurung, 1% daging  buah, sisanya adalah air. Pada saat panen (12  bulan), proporsi berat basah sabut 56%,  tempurung 17%, daging buah 27%; proporsi berat  kering sabut 42%, tempurung 28%, dan daging buah 30% (Rindengan et al.,1995).

Mutu tertinggi dari produk hasil samping  akan tercapai pada saat umur buah 13 bulan  terkecuali untuk nata de coco, pada umur  demikian pertumbuhan buah sudah berhenti,  kadar air pada sabut sudah turun dan kandungan  abu juga rendah. Sedangkan untuk nata de coco  pada umur 13 bulan kandungan minyak pada air  kelapa mulai meningkat yang menyebabkan rendahnya mutu nata de coco.

PRODUK HASIL SAMPING BUAH KELAPA

Produk dari Sabut

Sabut kelapa merupakan bagian terluar buah  kelapa yang membungkus tempurung kelapa.  Ketebalan sabut kelapa berkisar 5-6 cm yang  terdiri atas lapisan terluar (exocarpium) dan  lapisan dalam (endocarpium). Endocarpium  mengandung serat-serat halus yang dapat  digunakan sebagai bahan pembuat tali, karung, pulp, karpet, sikat, keset, isolator panas dan  suara, filter, bahan pengisi jok kursi/mobil dan  papan hardboard. Satu butir buah kelapa  menghasilkan 0,4 kg sabut yang mengandung  30% serat. Komposisi kimia sabut kelapa terdiri  atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas,  arang, ter, tannin, dan potasium (Rindengan et al., 1995)

India dan Sri Lanka adalah produsen  terbesar produk-produk dari sabut dengan  volume ekspor tahun 2000 masing-masing 55.352  ton dan 127.296 ton dan masing-masing terdiri  atas 6 dan 7 macam produk seperti terlihat pada  Gambar 2. Pada saat yang sama, Indonesia hanya  mengekspor satu jenis produk (berupa serat  mentah) dengan volume 102 ton. Angka ini  menurun tajam dibandingkan ekspor tertinggi  pada tahun 1996 yang mencapai 866 ton (Ditjenbun, 2002; BPS, 2002).

Gambar 2. Produk turunan dari pengolahan sabut kelapa

Produk primer dari pengolahan sabut  kelapa terdiri atas serat (serat panjang), bristle  (serat halus dan pendek), dan debu abut. Serat  dapat diproses menjadi serat berkaret, matras,  geotextile, karpet, dan produk-produk kerajinan/  industri rumah tangga. Matras dan serat berkaret  banyak digunakan dalam industri jok, kasur, dan  pelapis panas. Debu sabut dapat diproses jadi  kompos dan cocopeat, dan particle board/hardboard.  Cocopeat digunakan sebagai substitusi gambut  alam untuk industri bunga dan pelapis lapangan  golf. Di samping itu, bersama bristle dapat diolah  menjadi hardboard (Nur et al., 2003; Allorerung et  al., 1998). Permintaan cocopeat diperkirakan akan  meningkat tajam karena di samping tekanan isu  lingkungan yang berkait dengan penggunaan  gambut alam juga karena mutu produk yang  ternyata lebih baik daripada gambut alam. Ekspor  serat sabut Indonesia pernah mencapai 866 ton,  sedangkan 2 tahun terakhir hanya mencapai 191  ton/tahun. Sedangkan cocopeat datanya belum  tersedia, namun sebagai gambaran, setiap  memproduksi serat sabut sebanyak 1 ton  bersamaan dengan itu dihasilkan 1,8 cocopeat. Harga cocopeat Rp. 400,-/kg.

Produk dari Tempurung

Berat dan tebal tempurung sangat ditentukan  oleh jenis tanaman kelapa. Kelapa Dalam  mempunyai tempurung yang lebih berat dan  tebal daripada kelapa Hibrida dan kelapa Genjah.  Tempurung beratnya sekitar 15-19% bobot buah  kelapa dengan ketebalan 3-5 mm. Komposisi  kimia tempurung terdiri atas; Selulosa 26,60%,  Pentosan 27,70%, Lignin 29,40%, Abu 0,60%,  Solvent ekstraktif 4,20%, Uronat anhidrat 3,50%,  Nitrogen 0,11%, dan air 8,00% (Ibnusantoso, 2001).

Tempurung kelapa yang dulu hanya  digunakan sebagai bahan bakar, sekarang sudah  merupakan bahan baku industri cukup penting.  Produk yang dihasilkan dari pengolahan  tempurung adalah arang, arang aktif, tepung  tempurung dan barang kerajinan. Arang aktif dari  tempurung kelapa memiliki daya saing yang kuat  karena mutunya tinggi dan tergolong sumber daya yang terbarukan.

Selain digunakan dalam industri farmasi,  pertambangan, dan penjernihan, arang aktif juga  digunakan untuk penyaring atau penjernih  ruangan untuk menyerap polusi dan bau tidak  sedap dalam ruangan. Berdasarkan data ekspor  tahun 2003, Indonesia ternyata lebih banyak  mengekspor dalam bentuk arang tempurung  (56%), sedangkan negara lain dalam bentuk arang  aktif (APCC, 2000; APCC, 2001; APCC, 2003).  Peningkatan ekspor arang tempurung dan arang  aktif dalam kurun waktu 10 tahun terakhir  masing-masing 13,86% untuk arang tempurung  dan 6,1% untuk arang aktif. Jumlah ekspor saat  ini untuk arang tempurung dan arang aktif masing-masing 29.493 ton dan 11.553 ton.

Produk dari Air Kelapa

Volume air yang terdapat pada kelapa  Dalam sekitar 300 ml, kelapa Hibrida 230 ml, dan  kelapa Genjah 150 ml. Air kelapa dimanfaatkan  untuk pembuatan minuman ringan, jelly, ragi,  alkohol, nata de coco, dextran, anggur, cuka, ethyl  acetat, dan sebagainya. Komposisi kimia air  kelapa adalah; specific grafity 1,02%, bahan padat  4,71%, gula 2,56%, abu 0,46%, minyak 0,74%, protein 0,55%, dan senyawa khlorida 0,17%.

Air kelapa yang dapat diolah untuk  menghasilkan beberapa produk bernilai ekonomi  seperti minuman ringan, cuka, dan nata de coco.  Nata de coco sendiri selain sebagai makanan  berserat, juga dapat digunakan dalam industri  akustik. Saat ini baru nata de coco yang telah  berkembang mulai dari skala industri rumah tangga hingga industri besar (Tenda et al., 1999).

KELAYAKAN USAHA HASIL SAMPING BUAH KELAPA

Untuk mengetahui kelayakan usaha secara  teknis dan finansial pengolahan hasil samping  buah kelapa (sabut, tempurung, dan air kelapa)  telah dilakukan pengkajian pemanfaatan industri  produk samping hasil perkebunan (kelapa) di  Provinsi Lampung, Jawa Barat, dan Sulawesi  Utara pada tahun 2004; kerjasama antara Bagian  Proyek Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran  Hasil Perkebunan dengan Koperasi  Pegawai Republik Indonesia Tantri Bogor  (Mahmud et al., 2004). Tingkat teknologi agroindustri  dalam analisis ini merupakan teknologi  sederhana yang dapat diusahakan oleh pekebun kelapa.

Pengolahan Sabut

Analisis finansial agroindustri rakyat sabut kelapa dilakukan dengan asumsi sebagai berikut:

a. Kapasitas terpasang alat olah sabut kelapa 1.500 butir sabut/hari
b. Produksi yang dihasilkan adalah sabut kelapa dan debu (cocopeat). Setiap 1 kg sabut  membutuhkan 5 butir sabut, dan setiap 1 kg debu sabut membutuhkan 16 butir sabut.
c. Umur usaha dihitung selama 10 tahun sesuai  dengan umur ekonomis mesin dan peralatan pabrik.
d. Penyusutan dihitung per tahun berdasarkan  estimasi umur ekonomis aset yang digunakan dengan metode garis lurus
e. Modal investasi, harga faktor produksi dan  harga jual produk berdasarkan estimasi harga jangka panjang.
f. Discount rate yang digunakan sebesar 18%  sesuai dengan estimasi tingkat suku bunga bank jangka panjang
g. Pengadaan alat olah sabut melalui modal  pinjaman dengan bunga pinjaman sebesar  16% dan konstant selama jangka waktu pengembalian 10 tahun.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan harga bahan baku Rp 50,-/butir sabut dan harga produk sabut Rp 900,- /kg serta harga debu sabut Rp 400,- /kg memberikan B/C ratio 3,58; NPV sebesar Rp 50.408.605,-; dan IRR 76% (Tabel 1).Analisis sensitivitas agroindustri ini menunjukkan bahwa dengan asumsi variabel yang lain tetap, harga minimal sabut agar usaha ini tetap layak adalah Rp 750,- /kg. Analisis ini juga menunjukkan bahwa dengan asumsi variabel lain tetap maka kapasitas berjalan minimal sebesar 1.090 butir sabut/hari agar usaha tetap layak.Dengan asumsi hari kerja selama 25 hari/ bulan dan 12 bulan/tahun, maka dalam satu tahun diperlukan minimal 327.000 butir sabut. Bahan baku ini dapat dipasok oleh sekitar 5.450 tanaman kelapa menghasilkan, atau sekitar 54,5 ha tanaman kelapa.Pengolahan TempurungAnalisis finansial pengolahan tempurung menjadi arang tempurung dilakukan dengan asumsi sebagai berikut:a. Analisis dihitung untuk memproses hasil 1 ha kelapa atau sekitar 6.000 butir tempurung kelapa/ tahun. b. Produksi yang dihasilkan adalah arang tempurung. Setiap 1 kg arang tempurung membutuhkan 24 butir tempurung kelapa. c. Umur usaha dihitung selama 5 tahun sesuai dengan umur ekonomis tempat pembakaran. d. Penyusutan dihitung per tahun berdasarkan estimasi umur ekonomis aset yang digunakan dengan metode garis lurus e. Modal investasi, harga faktor produksi dan harga jual produk berdasarkan estimasi harga jangka panjang. f. Discount rate yang digunakan sebesar 18% sesuai dengan estimasi tingkat suku bunga bank jangka panjang

Perhitungan analisis finansial agroindustri  arang tempurung rakyat menunjukkan bahwa  dengan harga produk arang tempurung Rp 500,-/  kg memberikan B/C ratio 1,11; NPV sebesar Rp 69.249,-; dan IRR 23% (Tabel 2).

Analisis sensitivitas agroindustri ini menunjukkan  bahwa dengan asumsi variabel yang lain  tetap, harga minimal arang tempurung Rp 352,5 /  kg agar usaha tetap layak. Analisis ini juga  menunjukkan bahwa dengan asumsi variabel lain  tetap maka luas areal tanaman kelapa minimal  yang diperlukan sebagai pendukung bahan baku   sebesar 0,8 ha yang setara dengan 80 tanaman kelapa agar usaha tetap layak.

Kendala yang ada dalam pengembangan  industri arang tempurung rakyat adalah masih  kecilnya pasar produk arang tempurung ini sehingga jaminan pemasarannya sukar didapat.

Pengolahan Air Kelapa

Analisis finansial pengolahan air kelapa   menjadi nata de coco dilakukan dengan asumsi sebagai berikut:

a. Analisis dihitung untuk memproses hasil 1 ha  kelapa atau sekitar 6.000 butir/tahun yang berisi sekitar 996 liter air kelapa.
b. Produksi yang dihasilkan adalah nata de  coco. Setiap 10 liter air kelapa dapat menghasilkan 6 kg nata de coco.
c. Umur usaha dihitung selama 5 tahun sesuai  dengan umur ekonomis peralatan pembuat nata de coco.
d. Penyusutan dihitung per tahun berdasarkan  estimasi umur ekonomis aset yang digunakan dengan metode garis lurus
e. Modal investasi, harga faktor produksi dan  harga jual produk berdasarkan estimasi harga jangka panjang.
f. Discount rate yang digunakan sebesar 18%  sesuai dengan estimasi tingkat suku bunga bank jangka panjang.

Perhitungan analisis finansial agroindustri  nata de coco rakyat menunjukkan bahwa dengan  harga produk nata de coco Rp 2.000 per kg  memberikan B/C ratio 1,32; NPV sebesar Rp 953.950; dan IRR 32% (Tabel 3).

Analisis sensitivitas agroindustri ini  menunjukkan bahwa dengan asumsi variabel yang lain tetap, harga minimal nata de coco  Rp 1.475 / kg agar usaha tetap layak. Kendala dalam pengembangan agroindustri  nata de coco rakyat ini adalah dalam pemasaran  retail produk nata yang memerlukan kepercayaan  konsumen terhadap produk dan merek dagang  produk yang dihasilkan serta keterandalan jaringan pemasaran mengingat konsumen nata de  coco ini adalah konsumen akhir. Agroindustri  nata de coco rakyat yang ada umumnya hanya  skala kecil dengan pasar lokal disekitar lokasi  usaha. Untuk itu pengembangan agroindustri nata de coco rakyat ini perlu diiringi dengan  perjanjian kerjasama dengan pengusaha besar  atau menengah yang telah memiliki merek  dagang yang dipercaya konsumen dan jaringan  pemasaran yang baik. Agroindustri nata de coco  rakyat dapat memasok produk lembaran nata  yang selanjutnya diolah oleh pengusaha besar atau menengah.

PENGEMBANGAN USAHA HASIL SAMPING BUAH KELAPA

Rendahnya pendapatan petani kelapa selama  ini disebabkan produk yang dihasilkan hanya  merupakan produk utama seperti kopra dan  kelapa butir. Sementara sebagian besar kopra  digunakan untuk kebutuhan bahan baku  pengolahan minyak kelapa (CCO) dalam negeri  yang perkembangannya tidak pesat; dan kelapa  butir untuk memenuhi permintaan konsumsi  rumah tangga dan industri lain yang  peningkatannya juga tidak terlalu besar. Minyak  kelapa sebagian besar di ekspor, tetapi  peningkatan permintaan dunia tidak terlalu  tinggi, malah sepuluh tahun terakhir stok minyak  kelapa dunia mencapai 13,0% – 15,90% atau  386.100–508.100 ton/tahun. Hal ini merupakan  salah satu alasan betapa sulitnya industri kelapa  untuk berkembang, kalau hanya mengandalkan kopra dan minyak kelapa saja.

Philippina, Srilanka, dan India adalah  negara-negara yang sudah mengolah lebih hilir  produk kelapa, baik produk utamanya (kopra,  minyak kelapa, dan kelapa parut kering) maupun  hasil samping (sabut tempurung dan air).  Indonesia juga sudah mengolahnya, namun  sebatas produk hasil samping yang masih berupa  produk ”intermediate” seperti serat, arang dan nata de coco.

Untuk mengembangkan usaha hasil samping  buah kelapa di Indonesia, diperlukan strategi,  kelembagaan dan implementasi berbagai faktor  penunjangnya.

Pengolahan Sabut

Di dalam pengolahan serat sabut, pengembangan  industri ini haruslah ditunjang dengan kelayakan teknis terutama ketersediaan pasokan  bahan baku sabut kelapa. Setiap satu alat  pengolah sabut sederhana ini haruslah ditunjang  oleh minimal 54,5 ha tanaman kelapa yang setara dengan 5.450 pohon kelapa.

Mendapatkan areal kelapa seluas tersebut di  atas dalam satu hamparan sangat sulit, sehingga  bahan baku harus dikumpulkan dari areal yang  terpencar-pencar dan memerlukan biaya dalam  pengumpulannya. Keadaan ini makin sulit  dengan beragamnya produk yang dihasilkan  petani. Petani yang menghasilkan kopra sebagai  produk utamanya tidak akan menyisakan sabut   dan tempurung karena digunakan untuk  pengasapan kelapa; sehingga yang tersisa hanya  air kelapa. Selain itu infrastruktur yang belum  baik di setiap lokasi juga merupakan faktor  kesulitan dalam pengembangan usaha hasil samping.

Bahan baku sabut kelapa diharapkan pada  petani yang menjadikan butiran kelapa sebagai  produk utamanya, karena kelapa dijual dalam  bentuk kelapa tanpa sabut, di mana sabutnya  tinggal di areal. Keterangan ini memberi indikasi  bahwa luas areal kelapa yang diperlukan untuk  memenuhi bahan baku satu unit alat pengolah  sabut dari 5.450 pohon kelapa dapat tersebar  pada luas wilayah 300 ha (jumlah petani kelapa  80%, dan yang menjadikan kelapa butiran sebagai produk utamanya 44%).

Faktor lain yang sangat penting dalam  pengembangan industri sabut rakyat ini adalah  jaminan pemasaran produk sabut yang dihasilkan  mengingat pada umumnya tidak ada pasar lokal  atau konsumen sabut kelapa yang dekat dengan lokasi industri ini.

Hasil kajian mengenai industri pengolahan  produk samping kelapa menunjukkan bahwa  industri sabut, arang, dan nata de coco yang telah  dilakukan oleh petani dengan penerapan  teknologi sederhana, layak secara finansial,  dengan B/C ratio 1,11 – 3,58 dan IRR 23 – 76%.  Hasil analisis sensitivitas industri sabut  menunjukkan kapasitas berjalan minimal 1.090  butir/hari, yang berarti untuk menjalankan satu  unit pengolahan sabut diperlukan bahan baku  sebanyak 1.090 butir/hari. Oleh karena itu  penempatan industri pengolahan sabut perlu  mempertimbangkan ketersediaan kebun kelapa  yang mampu menyediakan bahan baku tersebut  secara kontinu. Kontinuitas ketersediaan bahan  baku tersebut juga berpengaruh terhadap harga  bahan baku. Harga maksimal untuk dapat  menjalankan industri sabut secara kontinu adalah  Rp 75,-/kg. Pada tingkat harga di atas harga  tersebut, industri pengolahan sabut tidak layak  dilaksanakan. Dari sisi harga produk, tingkat  harga minimal yang masih layak untuk industri  sabut adalah Rp 750,-/kg. Rendahnya akses pasar  yang menyebabkan biaya transportasi relatif  tinggi sering menyebabkan tingkat harga yang  diterima petani jauh di bawah harga pasar, merupakan disinsentif bagi pelaku industri ini.

Aspek teknis alat pengolah sangat  menentukan kualitas hasil olahan. Yang banyak  terjadi, kualitas serat sabut yang dihasilkan oleh  industri rakyat tidak sesuai dengan standar  kualitas yang diminta oleh konsumen, dan hal ini  dijadikan alasan oleh calon pembeli untuk  menentukan harga dan bahkan menolak membeli  produk yang sudah dihasilkan petani. Oleh  karena itu pembinaan dan pengawasan terhadap  produsen alat pengolah juga mutlak perlu  mendapat perhatian dinas perindustrian setempat.

Untuk pengolahan sabut pengembangannya  diarahkan kepada petani yang memproduksi  kelapa butiran sebagai hasil utamanya, dengan  luasan wilayah tidak kurang dari 300 ha, dengan  infrastruktur yang baik untuk menunjang kelancaran transportasi bahan baku.

Di dalam pengolahan sabut, kegiatan ini  harus dipadukan dengan pengolahan debu sabut  menjadi kompos yang teknologinya sederhana,  sehingga diperoleh pendapatan tambahan.  Sebagai gambaran satu ton serat sabut yang  dihasilkan, terdapat lebih kurang 1,8 ton debu sabut. Harga debu sabut Rp. 400,-

Pengolahan Tempurung

Hampir 60% butir kelapa yang dihasilkan  dikonsumsi dalam bentuk kelapa segar, di mana  sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan  rumah tangga. Ini berarti tempurung sisa berada  di sekitar pasar sebagai limbah pasar. Untuk  memproduksi 1 kg arang dari tempurung  diperlukan tempurung dari 10 butir kelapa. Kalau  satu drum untuk pengolahan tempurung  kapasitasnya 100 pasang tempurung (100 butir)  kelapa. Maka untuk membakar tempurung yang  berasal dari penduduk sekitar pasar sebanyak  200.000 penduduk, sejumlah 1.200.000 butir  (konsumsi 6 butir/kapita), diperlukan drum  pembakar sebanyak 144 buah/tahun. Jumlah ini akan menghasilkan 120 ton arang per tahun.

Seperti halnya industri sabut, industri arang  tempurung yang ada di daerah sentra produksi  kelapa juga layak secara finansial. Hasil analisis  sensitivitas industri ini menunjukkan harga  minimal arang Rp 352,5/kg dan dibutuhkan  kebun kelapa penyedia bahan baku seluas  minimal 0,8 ha atau setara dengan 80 tanaman   kelapa. Skala tersebut nampaknya tidak terlalu  sulit dicapai, akan tetapi peluang pasar produk  arang tempurung relatif kecil, sehingga untuk  pengembangan industri ini perlu memperhatikan  keseimbangan penawaran dan permintaan pasar secara cermat.

Pengembangan pengolahan arang dari  tempurung lokasinya harus berada di sekitar  pasar tradisional, agar tidak jauh dari sumber  bahan baku. Kendala dalam pengolahan arang  tempurung dari limbah pasar ini adalah kondisi  tempurung yang tidak utuh. Kebiasan  masyarakat terutama di Jawa, memarut kelapa  dilakukan setelah daging buah dipisah dengan  tempurungnya. Cara pengupasan daging buah  dengan tempurung adalah dengan melepas  tempurung sedikit demi sedikit, sehingga  tempurung menjadi kepingan-kepingan kecil.  Bentuk ini kurang memenuhi syarat untuk  pembuatan arang. Kebiasan ini perlu diubah  dengan cara pemarutan kelapa seperti di  Sumatera, dimana pemarutan daging kelapa  dilakukan pada kondisi daging dan tempurung  masih bersatu, cara ini menyisakan tempurung yang utuh.

Selama ini industri pengolahan arang aktif di  dalam negeri kurang berkembang. Ekspor  dilakukan dalam bentuk arang tempurung oleh  pengusaha menengah dengan melakukan sortasi  arang yang diperoleh dari masyarakat. Hal ini  menyebabkan nilai tambah yang diperoleh sangat  rendah, dibandingkan jika mengolah arang  sampai menjadi arang aktif; nilai tambahnya dapat mencapai lebih dari 300%.

Pengolahan Air Kelapa

Sekitar 40% butir kelapa yang dihasilkan  diolah menjadi kopra (5 milyar butir/tahun), dan  hasil samping yang tersisa dari pengolahan kopra  adalah air kelapa, karena sabut dan  tempurungnya dibakar untuk pengasapan kopra.  Banyaknya jumlah air kelapa yang didapat,  barangkali tidak perlu diolah semua. Jumlah  pengolahan air kelapa menjadi nata de coco  sangat ditentukan oleh perkembangan jumlah konsumsi yang mungkin terjadi.

Persaingan di segmen minuman ini sangat  tinggi, karena banyaknya macam dan merek yang  beredar saat ini. Sementara penampilan nata de  coco sejak awal sampai sekarang tidak mengalami  perubahan. Oleh sebab itu di daerah yang akan  dikembangkan pengolahan nata de coco perlu  dilakukan survei pasar terlebih dahulu. Hal ini  hanya dapat dilakukan oleh perusahaan menengah dan besar.

Dalam pengembangan industri nata de coco  di tingkat petani, di samping kelayakan finansial,  hal yang perlu lebih dipertimbangkan adalah  kepercayaan konsumen dan keterandalan  jaringan pemasaran produk yang dihasilkan.  Industri nata de coco yang ada di tingkat petani  umumnya dalam skala kecil dengan jangkauan  pasar lokal di sekitar lokasi usaha. Mengingat  konsumen nata de coco adalah konsumen akhir,  maka kepercayaan konsumen terhadap merk  dagang sangat menentukan keberhasilan  penjualan produk yang dihasilkan. Oleh karena  itu perlu dipertimbangkan pembinaan kemitraan  antara petani dengan pengusaha besar atau  menengah yang telah memiliki merk dagang terpercaya untuk memasarkan produk petani.

Untuk pengolahan air kelapa, pembinaan  sebaiknya dilakukan melalui pelatihan-pelatihan  untuk mendapatkan nata de coco yang sehat dan  higienis. Nata de coco yang diproduksi petani  dijual ke pabrik menengah atau besar untuk  mengolahnya dan memackingnya menjadi bentuk  yang menarik. Dapat juga dalam pemasarannya,  nata de coco dicampur dengan bahan atau  makanan lain. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh pengusaha menengah dan besar.

KESIMPULAN

Pengolahan hasil samping buah kelapa harus  memperhitungkan ketersediaan pasokan bahan  baku dan kesesuaian jenis agroindustri yang  dikembangkan. Pengolahan sabut kelapa dapat  diikuti dengan pengolahan arang tempurung,  sedangkan pengolahan nata de coco dapat diikuti  dengan pengolahan kopra. Hal ini karena  umumnya bahan bakar pada pengolahan kopra  memakai sabut dan tempurung kelapa untuk mengurangi biaya.

Pengolahan sabut dan arang tempurung  harus disesuaikan dengan luasan lahan kelapa.  Untuk kapasitas alat 1.500 butir kelapa minimal  pasokan bahan baku berasal dari kebun kelapa  seluas 55 ha/unit pengolahan sabut atau sekitar  5.500 tanaman menghasilkan, sedangkan  pengolahan kopra dan nata de coco harus  dibarengi dengan luasan lahan kelapa minimal 5  ha atau sekitar 500 tanaman menghasilkan, per unit pengolahan kopra kapasitas satu kwintal.

Untuk menjamin pemasaran produk perlu  dibangun kerjasama pemasaran antara agroindustri  rakyat dengan industri sedang atau besar  dalam menunjang pembangunan agroin-dustri  kelapa, sedangkan untuk meminimalisasi biaya  produksi dari produk yang dikembangkan, lokasi   pengembangan sebaiknya diarahkan mendekati  sumber bahan baku, namun demikian harus  dipilih lokasi yang sudah ditunjang oleh infrastruktur yang memadai.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, A., S. Friyatno, Supadi dan A. Askin.  2003. Analisis pengembangan agroindustri  komoditas perkebunan rakyat  (kopi dan kelapa) dalam mendukung  peningkatan daya saing sektor pertanian.  Makalah Seminar Hasil Penelitian Pusat  Penelitian dan Pengembangan Sosial  Ekonomi Pertanian Bogor. T.A. 2003. 38 hal

Allorerung, D., dan A. Lay. 1998. Kemungkinan  pengembangan pengolahan buah kelapa  secara terpadu skala pedesaan. Prosiding  Konperensi Nasional Kelapa IV. Bandar  Lampung 21 – 23 April 1998 Pp.327 – 340.  Anonim. 2000. Hasil pengkajian sabut kelapa  sebagai hasil samping. Bank Indonesia Jakarta. 15 hal.

APCC. 2000. Coconut statistical yearbook 1999. Asia Pacific Coconut Community.

_____. 2001. Coconut statistical yearbook 2000. Asia Pacipic Coconut Community.

_____. 2003. Coconut statistical yearbook 2002. Asia Pacipic Coconut Community.

BNI 1946. 1990. Kebutuhan oleokimia dunia. Majalah Tinjauan Ekonomi 151.

BPS. 2002. Statistik industri besar dan sedang. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Ditjenbun. 2002. Statistik perkebunan indonesia  2000 – 2002. Kelapa. Direktorat Jenderal  Bina Produksi Perkebunan. Jakarta. 57 hal.

Ibnusantoso, G. 2001. Prospek dan potensi kelapa  rakyat dalam meningkatkan ekonomi  petani Indonesia. Dirjen Industri Agro  dan Hasil Hutan. Dept. Perindag.  Disampaikan pada Pekan Perkelapaan Rakyat. 5 Nopember 2001 di Riau.

Istina. I.N., Kardiyono, Umar, dan A. Aris. 2003.  Pemanfaatan limbah sabut kelapa dalam  usahatani padi pasang surut. Kelembagaan  Perkelapaan di Era Otanomi  Daerah. Prosiding Konferensi Nasional  Kelapa V. Tembilahan 22 – 24 Oktoner 2002. Pp.160 – 165.

Lay, A. dan P. M. Pasang. 2003. Alat penyerat  sabut kelapa tipe balitka. Kelembagaan  Perkelapaan di Era Otanomi Daerah.  Prosiding Konferensi Nasional Kelapa V.  Tembilahan 22 – 24 Oktoner 2002. Pp.154 – 159.

———, P. M. Pasang. 2003. Teknologi pengolahan  dan strategi pengembangan unit  pengolahan kelapa komersil di tingkat  pedesaan. Kelembagaan Perkelapaan di  Era Otanomi Daerah. Prosiding Konferensi  Nasional Kelapa V. Tembilahan 22 – 24 Oktoner 2002. Pp. 170 – 1181.

Mahmud, Z., Y. Ferry., C. Indrawanto., dan I.  Ketut A. 2004. Pengkajian pemanfaatan  hasil samping produk kelapa. Kerjasama Koperasi Tantri dengan BP2HP. 53p.

Maurits, S. 2003. pemanfaatan serat sabut kelapa  berkaret menjadi jok kursi. Kelembagaan  Perkelapaan di Era Otanomi Daerah.  Prosiding Konferensi Nasional Kelapa V.  Tembilahan 22 – 24 Oktoner 2002. Pp. 139– 145.

Nur, I.I, Kardiyono, Umar, dan A. Aris. 2003.  Pemanfaatan limbah debu sabut kelapa  dalam usahatani padi pasang surut.  Kelembagaan Perkelapaan di Era Otanomi  Daerah. Prosiding Konferensi Nasional  Kelapa V. Tembilahan 22 – 24 Oktoner 2002. Pp.160– 165.

PKAO, 1989. Basic Data. Pilipinas KAO Inc.  Richtler, H.J and J. Knaut, 1984. Challenges to  mature industri, marketing and  economics of oleochemicals in western europe. JAOC. 61 (2).

Rindengan, B., A. Lay., H. Novarianto., H.  Kembuan dan Z. Mahmud. 1995.  Karakterisasi daging buah kelapa hibrida  untuk bahan baku industri makanan.  Laporan Hasil Penelitian. Kerjasama  Proyek Pembinaan Kembagaan Penelitian Pertanian Nasional. Badan Litbang 49p.

———, dan S. Karaow. 2003. Peluang pengembangan  minyak kelapa murni. Prosiding  Konferensi Nasional Kelapa V. Tembilahan,  22 – 24 Oktober 2002. Pp.146 – 153.

Rumokoi, M. M.M, dan R.H. Akuba. 1998. Minyak  kelapa abad 21: Pangan atau oleokimia.  Prosiding Konperensi Nasional Kelapa  IV. Bandar Lampung 21 – 23 April 1998. Puslitbangtri. Pp.302 – 341.

Tenda, E. T., H. G. Lengkey, Miftahorrachman  dan H. Tampake. 1999. Produktivitas sifat  kimia daging dan air buah enam jenis  kelapa hibrida. J. Penelitian Tanaman Industri. 5 (2): 39 – 45.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s