1. Pendahuluan

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA AGRO TERPADU BERBASIS KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT

Oleh: AGUSTANTO BASMAR

BAB I  PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada era otonomi daerah, pembangunan ekonomi menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam daerah maupun faktor eksternal, seperti masalah kesenjangan dan isu globalisasi. Isu globalisasi ini menuntut tiap daerah untuk mampu bersaing di dalam dan luar negeri. Kesenjangan dan globalisasi berimplikasi kepada propinsi dan kabupaten/kota, untuk melaksanakan percepatan pembangunan ekonomi daerah secara terfokus melalui pengembangan kawasan dan produk andalannya. Percepatan pembangunan ini bertujuan agar daerah tidak tertinggal dalam persaingan pasar bebas, seraya tetap memperhatikan masalah pengurangan kesenjangan. Karena itu seluruh pelaku memiliki peran mengisi pembangunan ekonomi daerah dan harus mampu bekerjasama melalui bentuk pengelolaan keterkaitan antar sektor, antar program, antar pelaku, dan antar daerah (Bappenas 2006).

Pembangunan daerah pada dasarnya merupakan bagian internal dari pembangunan nasional dan tidak dapat dipisahkan dari pola pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan merata di seluruh wilayah tanah air. Dengan demikian dalam pelaksanaan pembangunan tersebut memerlukan suatu perencanaan yang strategis dan didukung oleh ketersediaan dana serta partisipasi masyarakat sebagai subyek pembangunan untuk meningkatkan pemerataan pertumbuhan dan pembangunan di segala bidang. Todaro (1983) menyatakan bahwa pembangunan mengandung nilai-nilai hakiki yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat yang paling mendasar, yang terdapat pada hampir semua masyarakat/kultur di segala jaman. Nilai-nilai tersebut adalah kebutuhan hidup, harga diri dan kebebasan.

Dalam PJP II kebijaksanaan pembangunan yang berorientasi pedesaan harus merupakan kebijaksanaan sentral yang perlu dipertahankan, oleh karena itu sektor pertanian tetap akan menjadi tumpuan pembangunan ekonomi dengan peningkatan kualitas dari sekedar orientasi pada usaha tani untuk mencukupi kebutuhan (product oriented) menjadi kegiatan-kegiatan yang berwawasan 17 agribisnis untuk mencapai kesejahteraan wilayah pedesaan (prospherity oriented) (Bappeda Kabupaten Lampung Barat, 2002).

Lebih lanjut Bappeda Kabupaten Lampung Barat (2002) menegaskan bahwa tujuan pembangunan pertanian adalah:

  1. Meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani dan nelayan.
  2. Meningkatkan perluasan lapangan kerja, kesempatan usaha, dan produksi usaha pertanian.
  3. Meningkatkan daya saing hasil pertanian dan pemanfaatan serta perluasan pasar, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri
  4. Terpeliharanya kemantapan swasembada pangan serta kualitas gizi masyarakat.
  5. Meningkatnya kemampuan kelembagaan pertanian dalam mengembangkan agrobisnis dan agroindustri.

Oleh karena itu pemerintah daerah di era otonomi ini dituntut untuk kreatif merumuskan strategi pembangunan wilayah dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki oleh setiap daerah. Potensi lokal meliputi, sumberdaya manusia, kedudukan wilayah, dukungan politik lokal, dan sumberdaya alam (SDA). Prinsip penting dalam pelaksanaan pendekatan pembangunan wilayah yang utuh dan terpadu adalah kemampuan menemukenali potensi wilayah yang ada untuk dikembangkan dengan berbagai masukan program pembangunan. Dengan telah ditemukenalinya potensi wilayah, maka berbagai program pembangunan dapat diarahkan sesuai dengan tingkat perkembangan masingmasing wilayah (LPPM-IPB, 2002).

Dengan adanya preferensi program berdasarkan perkembangan potensi wilayah diharapkan tidak terjadi generalisasi program pembangunan untuk masing-masing wilayah. Sebaliknya akan terjadi spesialisasi program pembangunan berdasarkan potensi wilayah yang ada. Dengan pendekatan spesialisasi program yang proporsional pada gilirannya diharapkan pelaksanaan berbagai program pengembangan wilayah akan dapat dilakukan secara efisien, efektif dan akurat, yang pada akhirnya dapat mencapai hasil yang optimal (LPPMIPB, 2002). Optimalisasi pencapaian program pembangunan tidak terlepas dari kejelian pemerintah daerah dalam memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada.

Menurut Bappeda Kabupaten Lampung Barat (2002) beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam penetapan suatu potensi Sumber Daya Alam (SDA) sebagai sektor unggulan antara lain:

  1. Secara fisik potensi lahan yang tersedia memiliki kesesuaian/cocok untuk budidaya komoditi tertentu dan memiliki luas yang memungkinkan tersedianya produksi sebagai pasokan industri yang akan dikembangkan antara lain : Agroindustri.
  2. Secara fisik potensi lahan yang tersedia cocok untuk pengembangan suatu kawasan industri.
  3. Bidang usaha yang dikembangkan dengan memanfaatkan potensi SDA dan lahan yang tersedia memiliki peluang pasar yang besar baik lokal, regional, nasional maupun ekspor, sehingga memungkinkan pengembalian investasi yang besar.
  4. Bidang usaha yang dikembangkan dengan memanfaatkan potensi SDA dan lahan yang tersedia berdampak positif bagi pengembangan lapangan usaha baru dan kesempatan kerja sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan pendapatan masyarakat.

Berbagai upaya telah, sedang dan akan ditempuh pemerintah daerah dalam memacu pertumbuhan ekonomi wilayah. Peningkatan pertumbuhan ekonomi diupayakan melalui perbaikan sarana dan prasarana pendukung, peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan peluncuran program pembangunan wilayah berbasis komoditi tertentu.. Pengembangan wilayah merupakan berbagai upaya untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup di wilayah tertentu, memperkecil kesenjangan pertumbuhan, dan ketimpangan kesejahteraan antar wilayah.

Rustiadi dan Hadi (2006) menyatakan bahwa strategi pembangunan wilayah yang pernah dilaksanakan untuk mengatasi berbagai permasalahan disparitas pembangunan wilayah antara lain:

  1. Secara nasional dengan membentuk Kementerian Negara Percepatan pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI).
  2. Percepatan pembangunan wilayah-wilayah unggulan dan potensial berkembang, tetapi relatif tertinggal dengan menetapkan kawasan-kawasan seperti (1) Kawasan Andalan (Kadal); (2) Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (Kapet) yang merupakan salah satu Kadal terpilih di setiap propinsi.
  3. Program percepatan pembangunan yang bernuansa mendorong pembangunan kawasan perdesaan dan sentra prosuki pertanian seperti : (1) Kawasan Sentra Produksi (KSP) atau Kasep; (2) Pengembangan kawasan perbatasan; (3) Pengembangan kawasan tertinggal; (4) Proyek pengembangan ekonomi lokal.
  4. Program-program sektoral dengan pendekatan wilayah : (1) Pewilayah komoditas unggulan; (2) Pengembangan Sentra Industri Kecil; (3) Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), dan lain-lain

Pengembangan wilayah berbasis komoditas unggulan diharapkan dapat memacu pertumbuhan suatu wilayah yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Beberapa wilayah memiliki keunggulan pada sektor pertanian yang sebagian besar merupakan usaha tani rakyat. Salah satu model pengembangan wilayah berbasis komoditas saat ini yang sedang dikembangkan oleh beberapa wilayah adalah komoditas kelapa. Tercatat beberapa daerah seperti Sulawesi Selatan dengan Program Implementasi Gerbang Emas Agroindustri Pengolahan Kelapa Terpadu, dan Kabupaten Lampung Barat dengan Program Kawasan Usaha Agro Terpadu (KUAT) berbasis Komoditas Kelapa.

Program KUAT merupakan salah satu strategi Pemerintah Kabupaten Lampung Barat dalam pengembangan komoditas unggulan melalui pendekatan klaster agroindustri. Program ini dilaksanakan atas dukungan Depertemen Perindustrian (Depperin) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dengan komoditas basis kelapa.

Dalam kurun waktu tiga dasawarsa terakhir, petani kelapa di berbagai negara termasuk Indonesia berada pada posisi yang tidak menguntungkan, karena rendahnya produktivitas serta harga kopra yang rendah dan fluktuatif. Akibat rendahnya pendapatan, petani kelapa menjadi kurang termotivasi untuk mengadopsi teknologi anjuran untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani (Tarigans, 2003).

Kondisi tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi secara sungguh-sungguh. Untuk itu pemberdayaan petani kelapa dalam rangka meningkatkan pendapatan dan sekaligus mengentaskan kemiskinan merupakan upaya yang strategis. Pemberdayaan petani kelapa melalui program KUAT dilakukan secara terpadu dalam sistem agribisnis, mulai dari tahap on farm sampai dengan off farm yang diwujudkan melalui pendirian pabrik pengolahan serta pemasaran produk dan optimalisasi sarara dan prasarana pendukung. Guna mendukung program KUAT tersebut diperlukan studi mendalam tentang keuntungan komparatif, keuntungan kompetitif, kondisi harga, produk turunan yang berdaya saing, kondisi sumberdaya manusia, tipologi wilayah dan pandangan stakeholder tentang program ini.

1.2. Perumusan Masalah

Sebagai daerah dengan wilayah pegunungan dan pesisir potensi terbesar berasal dari sektor pertanian tanaman pangan, hortikultura, kehutanan dan perkebunan. Komoditas perkebunan utama yang terdapat di Kabupaten Lampung Barat adalah Kopi, Lada, Cengkeh , Kelapa Sawit dan Kelapa Dalam.
Budidaya pertanian di Kabupaten Lampung Barat sebagian besar merupakan usaha tani rakyat dengan input teknologi yang sangat sederhana. Hal ini berdampak pada rendahnya produksi dan mutu produk. Dampak dari kenyataan tersebut adalah nilai jual produk sangat murah dan pada akhirnya mengakibatkan pendapatan petani menjadi sangat rendah.

Pemerintah Pusat dan Daerah terus berupaya meningkatkan produktifitas hasil pertanian rakyat. Berbagai upaya ditempuh guna memacu perbaikan pendapatan masyarakat. Namun hal ini belum berjalan secara efektif, disebabkan program yang bersifat sektoral, sumberdaya manusia petani yang rendah, luasnya wilayah dan besarnya jumlah petani disamping itu pemerintah memiliki keterbatasan anggaran pembangunan.

Salah satu komoditas unggulan yang diusahakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat secara turun-temurun adalah kelapa dalam (Cocos nucifera L). Menurut Supadi dan Nurmanaf (2006) dalam perekonomian Indonesia, kelapa merupakan salah satu komoditas strategis karena perannya yang besar bagi masyarakat sebagai sumber pendapatan, sumber utama minyak dalam negeri, sumber devisa, sumber bahan baku industri (pangan, bangunan, farmasi, oleokimia), dan sebagai penyedia lapangan kerja. Namun demikian, bila dilihat dari segi pendapatan petani, potensi ekonomi kelapa yang sangat besar itu belum dimanfaatkan secara optimal karena adanya berbagai masalah internal baik dalam proses produksi, pengolahan, pemasaran maupun kelembagaan (Kasryno et al., 1998, dalam Supadi dan Nurmanaf, 2006).

Usaha tani kelapa dalam di Kabupaten Lampung Barat dilakukan secara tradisional dengan input sarana produksi yang sangat minimum atau bahkan tidak sama sekali. Hal ini tidak terlepas dari keterbatasan modal ditambah keyakinan yang berlaku di kalangan masyarakat bahwa usaha tani ini tidak memerlukan pemupukan. Dampaknya adalah rendahnya produktifitas perkebunan kelapa rakyat. Menurut data statistik Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Barat Tahun 2005, luas areal tanaman kelapa mencapai 6.326 Ha dengan produksi mencapai 2.413,0 ton. Sedangkan produktifitas tergolong sangat rendah yaitu 681 Kg/Ha/Tahun dalam bentuk Kopra.

Rendahnya penghasilan yang diperoleh dari kelapa menyebabkan petani tidak memiliki modal untuk memelihara kebun secara intensif, apalagi menggarap lahan perkebunan secara optimal maupun mengolah hasil (Supadi dan Nurmanaf, 2006). Di sisi lain pola usaha tani monokultur yang diterapkan sebagian besar petani saat ini, dan pola usaha tani polikultur yang masih bersifat subsisten, telah membatasi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih layak. Produk kelapa yang dihasilkan masyarakat baru berbentuk kelapa butir dan kopra, dengan demikian nilai tambah komoditas sangat rendah. Variasi produk kelapa yang belum dikembangkan ini disebabkan belum tumbuhnya budaya diversifikasi produk olahan kelapa di kalangan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari rendahnya pengetahuan tentang produk turunan kelapa dalam, disamping teknologi pengolahan yang juga belum dikenal di kalangan masyarakat.

Menurut Supadi dan Nurmanaf (2006), produk usaha tani yang dihasilkan masih bersifat tradisional, yaitu kelapa butiran dan kopra berkualitas rendah. Pemanfaatan hasil samping belum banyak dilakukan oleh petani, sehingga nilai tambah dari usaha tani belum diperoleh secara optimal. Hanya sebagian kecil petani yang telah memanfaatkan hasil samping seperti sabut dan tempurung.

Dalam pemasaran kelapa, petani di Kabupaten Lampung Barat melakukan penjualan kepada pedagang pengumpul desa, selanjutnya dibawa kepada pedagang pengumpul kecamatan, dan pabrik minyak kelapa di Bandar Lampung. Pada prinsipnya, dalam hal pemasaran petani dirugikan oleh praktek pasar monopsoni dari industri dan pedagang yang menentukan harga secara sepihak. Posisi tawar yang lemah berdampak pada ketidakberdayaan petani di hadapan para pedagang.

Permasalahan lain yang menjadi pembatas pengembangan usaha tani kelapa adalah belum tersedianya industri pengolahan kelapa dan hasil ikutannya di Kabupaten Lampung Barat. Kenyataan di atas menyebabkan lambannya pengembangan produk hasil kelapa.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat diajukan beberapa pertanyaan penelitian:

  1. Bagaimana meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa dalam ? dan produk apa yang akan dikembangkan dari komoditas kelapa?
  2. Dimana calon lokasi KUAT yang representatif?
  3. Bagaimana persepsi stakeholder atas program KUAT?
  4. Bagaimana arahan pengembangan KUAT berbasis komoditas kelapa dalam di Kabupaten Lampung Barat?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi lokasi pengembangan KUAT.
  2. Mengidentifikasi produk peospektif yang akan dikembangkan dalam program KUAT.
  3. Mengidentifikasi persepsi stakeholder tentang program KUAT berbasis kelapa.
  4. Mengkaji prospek pemasaran produk kelapa dalam serta turunannya.
  5. Menyusun arahan program KUAT di Kabupaten Lampung Barat Propinsi Lampung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s