3. Metode

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA AGRO TERPADU BERBASIS KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT

Oleh: AGUSTANTO BASMAR
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, 2008

BAB III  METODE PENELITIAN

3.2. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Lampung Barat, pada  kecamatan dengan potensi pengembangan kelapa dalam yang meliputi 6  Kecamatan yaitu: Bengkunat, Pesisir Selatan, Pesisir Tengah, Karya Penggawa,  Pesisir Utara dan Lemong. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Februari 2008.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian


3.3. Kerangka Pemikiran

Sebagai Kabupaten dengan potensi wilayah berbasis sektor pertanian  Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat menetapkan visi “Terwujudnya  masyarakat Lampung Barat yang Madani berbasis pertanian, kehutanan, kelautan dan pariwisata”

Visi tersebut diatas, menggambarkan besarnya peranan sektor pertanian  yang diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Seiring dengan  perjalanan waktu sektor pertanian yang menjadi sumber penghasilan utama  masyarakat belum mampu memberikan dampak yang berarti bagi kemakmuran  wilayah. Hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor seperti harga komoditas  pertanian yang fluktuatif, harga sarana produksi yang terus meningkat, lemahnya peranan lembaga usaha petani dan kebijakan di bidang pertanian yang tidak fokus.

Pengembangan komoditas perkebunan dilaksanakan lebih kepada produk  yang berharga tinggi pada saat itu. Akibatnya komoditas yang telah diusahakan  oleh masyarakat seringkali terabaikan karena faktor rendahnya harga jual.  Kebijakan pembangunan komoditas kelapa di Kabupaten Lampung Barat pada 10  tahun terakhir sangat lemah. Selama ini komoditas perkebunan yang banyak  dikembangkan adalah kopi, cengkeh, nilam dan kakao. Sedangkan komoditas  kelapa relatif kurang diperhatikan. Kondisi ini membuat petani kelapa kurang  bergairah untuk terus memelihara dan meningkatkan produktifitas tanaman kelapa mereka.

Dari subistem budidaya (produksi) permasalahan yang terjadi adalah:  penggunaan bibit asalan, pemeliharaan kebun yang sangat kurang berakibat pada  rendahnya produktifitas lahan. Berdasarkan data statistik Dinas Perkebunan  Kabupaten Lampung Barat Tahun 2005 produktifitas tanaman kelapa rakyat baru  mencapai 651 kg/ha/tahun. Menurut Supadi dan Nurmanaf (2006), potensi  produktivitas kelapa dalam yang dimiliki Indonesia sebesar 2,50 ton kopra/ha/  tahun. Dengan demikian produktifitas kelapa petani Kabupaten Lampung Barat  baru mencapai seperempat dari potensi produksi dan setengah dari rata-rata produksi nasional 1-1,2 ton/ha/tahun.

Sedangkan pada kegiatan non budidaya permasalahan kelapa di Kabupaten Lampung Barat antara lain: produk olahan baru sebatas kelapa butiran dan kopra dengan kualitas asalan. Belum tersedianya fasilitas pengolahan produk kelapa dan  hasil ikutannya menjadikan petani memiliki keterbatasan dalam membuat produk  olahan kelapa. Tidak adanya insentif yang diberikan kepada petani kelapa untuk  mendorong petani menghasilkan kopra bermutu baik atau menjual kelapa segar kepada pabrik terdekat.Dari segi pemasaran, para petani kelapa dirugikan oleh praktek pasar monopsoni dari pabrik minyak kelapa dan pedagang kopra yang menentukan harga secara sepihak (Supadi dan Nurmanaf, 2006). Muara dari kondisi tersebut  adalah rendahnya nilai tambah produk komoditas kelapa di Kabupaten Lampung  Barat. Tanpa adanya perubahan mendasar dari cara pandang berbagai pelaku  agribisnis kelapa termasuk pemerintah maka kondisi petani kelapa akan tetap terpuruk.

Pengembangan program KUAT adalah salah satu solusi alternatif dalam meningkatkan kesejahteraan petani kelapa. Selain itu, program KUAT diharapkan  dapat menjadi motor penggerak perekonomian wilayah karena sifat keterpaduan  dan pengembangannya meliputi suatu kawasan. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis agar pendekatan arahan program akan tepat pada sasaran.

Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan cara membandingkan kualitas lahan masing-masing satuan peta lahan dengan persyaratan penggunaan lahan  yang akan ditetapkan. Peta Kesesuaian lahan kelapa di wilayah Pesisir Kabupaten  Lampung Barat, selanjutnya ditumpangsusun dengan peta desa. Hal ini berguna  untuk memberikan gambaran spasial desa-desa pesisir sesuai dengan tingkat kesesuaian untuk tanaman kelapa.

Analisis Location Quotient (LQ) bertujuan untuk menggambarkan kondisi basis/pemusatan komoditas kelapa di setiap kecamatan lokasi penelitian. Analisis  skalogram dilakukan untuk menentukan hirearki desa-desa di kawasan pesisir.  Dalam metode skalogram, seluruh fasilitas umum yang dimiliki oleh setiap unit  desa didata dan disusun dalam satu tabel. Analisis skalogram bertujuan untuk  menggambarkan tipologi wilayah tempat penelitian untuk menunjukkan pusatpusat pelayanan berdasarkan fasilitas yang dimiliki.

Penentuan produk kelapa akan dilaksanakan dengan metode proses  hierarki analitik (AHP). Analisis AHP ditujukan untuk mendeskripsikanpandangan para stakeholder mengenai produk kelapa yang layak untuk  dikembangkan. Responden untuk analisis AHP merupakan para ahli yang terdiri  dari unsur peneliti perkelapaan, pengusaha agroindustri kelapa, pihak  Pemerintah Daerah Propinsi Lampung yang berasal dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Kabupaten Lampung Barat terdiri dari Bappeda, unsur Dinas  Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lampung Barat, Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Barat.

Untuk mendapatkan gambaran keragaan petani kelapa di Kabupaten Lampung Barat, maka dilakukan survai kepada petani. Pengumpulan data dilaksanakan melalui wawancara langsung kepada petani kelapa. Data yang dikumpulkan meliputi: luas areal kebun kelapa, usia tanaman kelapa, prosedur  pemeliharaan, pola panen dan pasca panen. Keragaan ini bertujuan untuk memberikan gambaran sisi on farm dan off farm perkebunan kelapa rakyat.

Rantai tata niaga di Kabupaten Lampung Barat dianalisis dengan menggunakan analisis rantai tata niaga dan marjin pasar. Melalui hasil analisis ini  dapat dilihat efektifitas dan efisiensi pemasaran produk kelapa dalam diantara  para pelaku pemasaran seperti petani sebagai produsen, pedagang pengumpul tingkat kecamatan, dan eksportir (apabila komoditas diekspor).

Untuk mengetahui permintaan beberapa produk kelapa dilakukan survai pustaka yang meliputi data ekspor, impor dan konsumsi produk olahan kelapa.  Data tersebut selanjutnya diolah untuk mendapatkan gambaran jumlah ekspor,  impor dan konsumsi dalam negeri. Melalui data tersebut dibuat peramalan trend permintaan produk kelapa selama beberapa tahun ke depan.

Hasil analisis tersebut di atas disusun ke dalam matriks yang menggambarkan kelayakan arahan Program KUAT. Wilayah-wilayah yang  secara fisik, ekonomi dan tipologinya mendukung diarahkan sebagai lokasi  program. Produk-produk terpilih yang akan digambarkan melalui nilai efisiensi  pasar, dan besarnya permintaan produk-produk tersebut juga ditampilkan dalam matriks hasil analisis. Pada akhirnya akan didapat arahan program KUAT berdasarkan gabungan hasil analisis fisik dan ekonomi wilayah. Pada diagram alir berikut ini disajikan kerangka pemikiran penelitian (Gambar 2).

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Penelitian

3.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan untuk penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan (responden) parapihak yang dianggap sebagai ahli dan berkompeten terkait program KUAT.  Gambaran keragaan perkebunan kelapa di Kabupaten Lampung Barat didapat melalui wawancara langsung dengan petani kelapa.

Sedangkan data sekunder berupa peta administrasi, topografi, geologi, hidrologi, data PDRB dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berasal dari Bappeda, Data Potensi Desa dari Badan Pusat Statistik dan Data Luas Areal dan  Produksi Tanaman Kelapa dari Dinas Perkebunan. Tabel 2. menjelaskan jenis  dan metode pengumpulan data. Sedangkan aspek, variabel yang diteliti, sumber  dan teknik pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel 3.

3.4. Analisis Data

Dalam Penelitian ini data dianalisis dengan metode Kesesuaian lahan  melalui Sistem Informasi Geografis (SIG), Location Quotient (LQ), Analytical Hierarchy Process (AHP), Analisis Margin Pasar, Analisis Demand pasar (Trend Permintaan), dan Analisis Pohon Industri.

3.4.1. Penentuan Lokasi

3.4.1.1. Analisis Kesesuaian Lahan Tanaman Kelapa

Hardjowigeno dan Widiatmaka (2001), menggambarkan kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa berdasarkan karakteristik lingkungan fisik dan lahan  seperti temperatur, ketersediaan air, media perakaran, retensi hara, kegaraman,  toksisitas, hara tersedia, kemudahan pengolahan, dan terrain/potensi mekanisasi.  Inti evaluasi lahan adalah membandingkan persyaratan yang diminta untuk tipe  penggunaan lahan yang akan diterapkan dengan sifat atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan tersebut.


Kriteria kualitas lahan yang dijadikan parameter dalam penelitian ini berdasarkan kriteria Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat  (2002) yang mencakup iklim, tanah, terrain (meliputi lereng dan topografi),  batuan di permukaan dan di dalam tanah, singkapan batuan, hidrologi, dan persyaratan penggunaan lahan atau persyaratan tumbuh tanaman.

Langkah awal dalam menganalisis data adalah dengan menggambarkan  lokasi yang memiliki kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa dalam di Kabupaten Lampung Barat. Kesesuaian lokasi tanaman kelapa dianalisis menggunakan pencocokan karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman kelapa. Gambaran lokasi kesesuaian lahan akan menjadi bagian dalam menentukan lokasi pengembangan program KUAT.

3.4.1.2. Analisis Location Quotient (LQ)

Analisis Location Quotient (LQ) dalam penelitian ini dilaksanakan pada  desa-desa di 6 Kecamatan wilayah Pesisir Kabupaten Lampung Barat yang meliputi Kecamatan Bengkunat, Kecamatan pesisir Selatan Kecamatan Pesisir  Tengah, Kecamatan Karya Penggawa, Kecamatan Pesisir Utara dan Kecamatan Lemong.

Untuk mengetahui peranan komoditas kelapa di desa-desa tersebut, maka perlu dilaksanakan analisis LQ. Analisis ini untuk mengetahui keunggulan wilayah saat ini dari komoditas kelapa terhadap peranannya kepada perekonomian  wilayah desa, kecamatan maupun terhadap kabupaten. Secara operasional LQ  dapat didefinisikan sebagai rasio persentase dari aktifitas pada sub wilayah ke-i terhadap aktifitas total wilayah yang diamati.

Persamaan dari LQ ini adalah :

Dimana :
Xij : Luas Areal Kelapa (Ha) di Desa-i
X.j : Total Luas Areal Kelapa (Ha) di Kecamatan – j
Xi. : Total Luas Areal Tanaman Perkebunan (Ha) di Desa ke-i
X.. : Total Luas Areal Tanaman Perkebunan (Ha) di Kecamatan pesisir (j)

Untuk dapat menginterpretasikan hasil analisis LQ, digunakan batasan sebagai berikut :

  • Jika nilai LQij > 1, maka hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi suatu  aktivitas di desa-i secara relatif dibandingkan dengan total kecamatan pesisir atau terjadi pemusatan aktifitas di desa ke-i.
  • Jika nilai LQij = 1, maka desa ke-i tersebut mempunyai pangsa aktifitas setara  dengan pangsa total atau konsentrasi aktifitas di desa-i sama dengan rata-rata total kecamatan di daerah pesisir.
  • Jika nilai LQij < 1, maka desa ke-i tersebut mempunyai pangsa relatif lebih  kecil dengan aktifitas secara umum ditemukan diseluruh kecamatan pesisir.  Data yang digunakan dalam LQ adalah luas areal tanaman kelapa dan tanaman  perkebunan lainnya di wilayah pesisir Kabupaten Lampung Barat. Seluruh data bersumber dari Data Statistik Perkebunan Kabupaten Lampung Barat Tahun 2005.

Untuk mendukung analisis LQ ini dapat digunakan analisis Location Index (LI) dengan persamaan :  − = ..) / . ) . / ( X Xi j X Xij  . Setelah diperoleh hasil  perhitungan, maka hasil perhitungan yang bernilai positif saja yang digunakan  untuk komoditas yang diselidiki, nilai  yang mendekati 1 artinya pengusahaan komoditas tersebut terkonsentrasi di suatu daerah (Saefulhakim, 2006.)

3.4.1.3. Analisis Skalogram

Salah satu cara untuk mengukur tingkat perkembangan suatu kawasan  secara cepat dan mudah adalah menggunakan metode skalogram. Pada prinsipnya suatu wilayah berkembang secara ekonomi dicirikan oleh tingkat aksesibilitas masyarakat di dalam pemanfaatan sumberdaya-sumberdaya ekonomi yang dapat digambarkan baik secara fisik maupun non fisik.

Melalui analisis skalogram pemetaan desa-desa pesisir yang menjadi  lokasi penelitian dapat digambarkan berdasarkan tipologi wilayah masing-masing. Tipologi wilayah disusun berdasarkan jenis fasilitas yang dimiliki oleh desa-desa  tersebut. Asumsi yang digunakan adalah bahwa wilayah yang memiliki ranking  tertinggi adalah lokasi yang dapat menjadi pusat pelayanan. Berdasarkan analisis  ini dapat ditentukan indikator yang digunakan dalam analisis skalogram adalah  jumlah penduduk, jumlah jenis, jumlah unit serta kualitas fasilitas pelayanan yang  dimiliki masing-masing desa. Hasil analisis ini nantinya akan menjadi  pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk menentukan lokasi KUAT Tahapan penyusunan skalogram adalah sebagai berikut :

  1. Menyusun fasilitas sesuai dengan penyebaran dan jumlah fasilitas di dalam  unit-unit desa. Fasilitas yang tersebar merata di seluruh desa diletakkan dalam  urutan paling kiri dan seterusnya sampai fasilitas yang terdapat paling jarang  penyebarannya di seluruh unit desa yang ada diletakkan di kolom tabel paling kanan.
  2. Menyusun sedemikian rupa dimana unit desa yang mempunyai ketersedian  fasilitas paling lengkap terletak di susunan paling atas, sedangkan unit desa  dengan ketersediaan fasilitas paling tidak lengkap terletak disusunan paling bawah
  3. Menjumlahkan seluruh fasilitas secara horizontal baik jumlah jenis fasilitas maupun jumlah unit fasilitas di setiap unit desa.
  4. Menjumlahkan masing-masing unit fasilitas secara vertikal sehingga diperoleh jumlah unit fasilitas yang tersebar diseluruh unit desa.
  5. Dari hasil penjumlahan ini diharapkan diperoleh urutan, posisi teratas  merupakan desa yang mempunyai fasilitas umum terlengkap, sedangkan  posisi terbawah merupakan desa dengan ketersediaan fasilitas umum paling tidak lengkap.
  6. Jika dari hasil penjumlahan dan pengurutan ini diperoleh dua desa dengan  jumlah jenis dan jumlah unit fasilitas yang sama, maka pertimbangan ketiga  adalah jumlah penduduk. Desa dengan jumlah penduduk lebih tinggi diletakkan pada posisi di atas.
  7. Disamping cara sebagaimana telah disebutkan diatas terdapat cara lain yang  merupakan modifikasi dari metode skalogram yaitu dengan penentuan indeks  perkembangan desa dengan berdasarkan jumlah penduduk dan jenis fasilitas pelayanan.

Model untuk menentukan nilai indeks perkembangan desa (IPj) suatu wilayah atau pusat pelayanan adalah sebagai berikut :

 =
n
i
ij j I IP ‘
i
ij
ij
SD
I I
I
min i


=
Dimana :
IPj = Indeks Perkembangan desa ke-j
Iij = Nilai indikator perkembangan ke-i desa ke-j
I’ij = Nilai indikator perkembangan ke-i
terkoreksi/terstandarisasi desa ke-j
Ii min = Nilai indikator perkembangan ke-i terkecil
SDi = Standar deviasi indikator perkembangan ke-i

Nilai-nilai tersebut akan digunakan untuk mengelompokkan unit desa  dalam kelas-kelas yang dibutuhkan atau hirearki desa. Diasumsikan bahwa kelompok yang diperoleh berjumlah 3, yaitu kelompok I dengan tingkat perkembangan tinggi, kelompok II dengan tingkat perkembangan sedang dan kelompok III dengan tingkat perkembangan rendah. Selanjutnya ditetapkan suatu  konsensus misalnya jika nilainya adalah lebih besar atau sama dengan (2 x standar  deviasi + nilai rata-rata) maka dikategorikan tingkat perkembangan tinggi,  kemudian jika antara nilai rata-rata sampai ( 2 x standar deviasi + nilai rata-rata)  maka termasuk tingkat perkembangan sedang, dan jika nilai kurang dari nilai ratarata maka termasuk dalam tingkat perkembangan rendah (Saefulhakim, 2006)

Secara matematis kelompok tersebut adalah :
Xi > X rata-rata + 2Stdev (tinggi)
Xrata-rata < Xi < + 2 Stdev (sedang)
Xi < Xrata-rata (rendah)
Analisis skalogram dalam penelitian ini menggunakan data PODES 2006

3.4.2. Preferensi Masyarakat

3.4.2.1. Analisis AHP

Analisa AHP digunakan untuk menarik kesimpulan tentang pandangan  para stakeholder mengenai komoditas yang dianggap menguntungkan untuk dikembangkan pada program KUAT Kabupaten Lampung Barat. Hasil kuesioner  setiap responden dianalisa untuk dilihat tingkat konsistensinya dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner.

Menurut Azis (1994), asumsi-asumsi yang dipakai oleh AHP adalah  sebagai berikut: pertama-tama harus terdapat sedikit (jumlah yang terbatas) kemungkinan tindakan, yakni, 1,2,….,n yang adalah tindakan positif, n adalah bilangan yang terbatas. Responden diharapkan akan memberikan nilai dalam angka yang terbatas untuk memberi tingkat urutan (skala) pentingnya atributatribut.

Skala yang dipergunakan dapat apa saja, tergantung dari pandangan responden dan situasi yang relevan. Tabel 8 berikut menggambarkan tingkat urutan dan definisinya.


Tabel 7. Sistem urutan (Ranking) Saaty (Azis, 1994)
Intensitas/
Pentingnya
Definisi Penjelasan
1 Sama Pentingnya Dua aktifitas memberikan kon
tribusi yang sama kepada tujuan
3 Perbedaan penting yang lemah
antara satu dengan yang lain
Pengalaman dan selera sedikit
menyebabkan yang satu sedikit
lebih disukai daripada yang lain
5 Sifat lebih pentingnya kuat Pengalaman dan selera yang
menyebabkan penilaian yang satu
lebih daripada yang lain. Yang satu
sangat lebih disukai daripada yang
lain
7 Menunjukkan sifat sangat
penting yang menonjol
Aktifitas yang satu sangat disukai
dibandingkan yang
lain;dominasinya tampak nyata
9 Penting absolut Bukti bahwa antara yang satu lebih
disukai daripada yang lain
menunjukkan kepastian tingkat
tertinggi yang dapat dicapai.
2,4,6,8 Nilai tengah diantara nilai
diatas/dibawahnya
Diperlukan kompromi
Kebalikan
angka bukan
nol di atas
Jika aktifitas i, dibandingkan
dengan j, mendapat nilai bukan
nol seperti tertera di kolom 1,
maka j-bila di bandingkan
dengan i-mem punyai nilai
kebalikannya
Asumsi yang masuk akal
Rasional Rasio yang timbul dari skala Jika konsistensi perlu dipaksanakan
dengan mendapatkan sebanyak n
nilai angka untuk melengkapi
matriks.

Walaupun demikian, mengikuti perkembangan baku AHP dipergunakan metode skala Saaty mulai dari 1 yang menggambarkan ”sama penting” (jadi untuk  atribut yang sama, skalanya selalu 1) sampai dengan 9 yang menggambarkan  kasus atribut yang paling absolut dibandingkan dengan yang lain (urutan pemastian tertinggi yang mungkin).
Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode AHP adalah :

  1. Mengidentifikasi/menetapkan masalah yang muncul;
  2. Menetapkan tujuan, kriteria dan hasil yang ingin dicapai;
  3. Mengidentifikasi kriteria-kriteria yang mempunyai pengaruh terhadap masalah yang ditetapkan;
  4. Menetapkan struktur hierarki
    Hirearki adalah suatu sistem yang tersusun dari beberapa level/tingkatan,  dimana masing-masing tingkat mengandung beberapa unsur atau faktor. Hal  yang dilakukan dalam suatu hierarki adalah mengukur pengaruh berbagai  kriteria yang terdapat pada hirarki. Pada umumnya, masalah dasar yang  muncul dalam penyusunan hierarki adalah menentukan level tertinggi dari berbagai interaksi yang terdapat pada berbagai level.
  5. Menentukan hubungan antara masalah dengan tujuan, hasil yang diharapkan, pelaku/objek yang berkaitan dengan masalah, dan nilai masing-masing faktor.
  6. Membandingkan alternatif (comparative judgement)
  7. Menentukan faktor-faktor yang menjadi prioritas (synthesis of priority)
  8. Menentukan urutan alternatif dengan memperhatikan logical consistency)

Sarana yang digunakan dalam AHP adalah dengan memberikan kuisioner kepada responden terpilih yang mengetahui dan memahami dengan baik masalah  kelapa dan agroindustri kelapa. Responden dipilih dengan metode pupossive sampling. Analisis AHP dilakukan dengan program aplikasi Expert Choice 2000

3.4.2.2 Persepsi Masyarakat

Program KUAT merupakan upaya pemerintah daerah untuk  melaksanakan pembangunan berbasis komoditas. Keberhasilan program  dipengaruhi oleh persepsi masyarakat tentang program tersebut. Penggalian  persepsi masyarakat dilakukan dengan survei terhadap petani dan pedagang yang terlibat dalam usaha tani kelapa di seluruh wilayah kecamatan lokasi penelitian.  Pertanyaan disusun menyangkut pemahaman masyarakat tentang program  terutama lokasi dan produk yang akan dikembangkan. Seluruh data (petani dan pedagang) dihitung secara persentatif berdasarkan lokasi pengamatan.

3.4.3. Prospek Pasar Produk Kelapa

3.4.3.1. Analisis Marjin Pasar.

Marjin pemasaran mempunyai dua pengertian (Tomek dan Robinson,  1990), yaitu: (1) Perbedaan harga antara dua lembaga pemasaran (seperti petani, pedagang, pengolah dan eksportir); dan (2) Biaya yang dikeluarkan untuk membayar jasa-jasa sepanjang saluran pemasaran. Hal ini terkait dengan peran  pemasaran berupa waktu, tempat dan transformasi kepemilikan produk (Malian et al., 2004).

Produk-produk yang merupakan bagian dari komoditas kelapa dalam akan dianalisis dengan menggunakan analisis marjin pasar. Jenis produk yang dianalisis didasarkan pada pandangan para ahli tentang produk kelapa yang  menguntungkan. Melalui hasil analisis ini dapat dilihat efektifitas dan efisiensi pemasaran produk kelapa dalam diantara para pelaku pemasaran seperti petani  sebagai produsen, pedagang pengumpul, pedagang sementara, eksportir (apabila komoditas diekspor).

Menurut Damanik dan Sientje (1992) formulasi yang digunakan untuk mengetahui marjin pemasaran produk kelapa digunakan pendekatan berikut ini. Misal harga kelapa/produk kelapa masing-masing lembaga tata niaga adalah:

1. Petani : Rp. A
2. Pedagang Pengumpul/perantara : Rp. B
3. Eksportir/Pedagang Besar : Rp. C
Maka marjin pemasaran menjadi:
A
a. Petani = x 100 % = %
B
B
b. Pedagang Perantara/Pengumpul x 100 % = %
C
3.4.3.2. Analisis Permintaan (Demand)

Definisi dasar dari permintaan konsumen adalah kuantitas suatu komoditas yang mampu dan ingin dibeli oleh konsumen pada suatu tempat dan waktu tertentu pada berbagai tingkat harga ketika faktor lain tidak berubah. Permintaan pasar adalah agregat dari permintaan individu konsumen.

Untuk mengetahui permintaan beberapa produk kelapa akan dilakukan survai pustaka ke pihak-pihak yang berwenang menangani pemasaran produk kelapa antara lain: Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lampung Barat, Dinas Perdagangan dan industri Propinsi Lampung, Departemen  Perdagangan, Departemen Perindustrian, eksportir, Asia and Pacific Coconut  Community (APCC), dan pengusaha minyak goreng di Bandar Lampung, pedagang pengumpul tingkat Kecamatan dan Kabupaten.

Analisis permintaan dilaksanakan dengan membuat proyeksi permintaan produk-produk kelapa yang prospektif berdasarkan kecenderungan data, dengan  asumsi bahwa pola konsumsi pada tahun-tahun mendatang sama seperti tahun  sebelumnya. Asumsi lain yang dipergunakan adalah bahwa variabel selain waktu,  kondisi perekonomian, kondisi pesaing, perubahan teknologi di anggap stabil. Proyeksi permintaan ini menggunakan metode peramalan time series.

3.4.3.3. Analisis Pohon Industri

Dalam analisis pohon industri, produk-produk turunan yang berbahan  baku kelapa akan diuraikan secara satu persatu kemudian dianalisis produk kelapa yang memiliki nilai ekonomi. Produk-produk olahan kelapa yang telah berkembang saat ini akan diuraikan satu persatu tentang rangkaian proses dan  manfaat masing-masing. Seluruh produk olahan kelapa mulai dari daun, buah,  sampai dengan batang akan digambarkan satu persatu melalui diagram pohon  industri. Analisis ini diperlukan untuk menunjukkan keragaman produk yang dapat dihasilkan dari tanaman kelapa.

Melalui deskripsi pohon industri dapat diketahui bahwa, pemanfaatan  kelapa untuk menghasilkan aneka ragam produk olahan dapat dilakukan dari bagian-bagian kelapa seperti daging buah, air kelapa, tempurung, sabut, sampai dengan tandan bunga. Analisis ini akan menggunakan model pohon industri yang dipakai oleh Direktorat Jenderal Tanaman Perkebunan Departemen Pertanian.

Gambaran produk kelapa dan turunannya digambarkan pada Gambar 3 berikut ini:
Gambar 3. Pohon industri kelapa
Sumber: Ditjenbun (2007)

2 responses to “3. Metode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s